Desa Tanpa Listrik

Ceritaku Hidup di Desa tanpa Listrik, Bagaimana Rasanya?

Desa Tanpa Listrik – Listrik, kita sudah tak bisa hidup tanpanya. Padam sebentar saja sudah bikin kita kelimpungan. Ya, bagaimana tidak, listrik sudah jadi sumber energi utama bagi kehidupan manusia bukan?

Lantas bagaiman jika listrik benar-benar tidak ada? Bisakah kita hidup dengan nyaman?

Desa Tanpa Listrik

Saya lahir dan dibesarkan di sebuh kampung bernama Kampung Pao, Desa Jangkar, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Sampai tahun 90-an, ketika saya masih SD, kampung saya belum juga mendapatkan pasokan listrik dari pemerintah.

Beberapa orang yang ingin punya listrik di rumahnya terpaksa menyambung ke desa tetangga yang jaraknya cukup jauh. Maksudnya menyambung di sini, orang di desa sebelah yang sudah punya meteran di rumahnya bersedia mengalirkan listrik ke orang lain dengan biaya tertentu.

Terbilang mahal sih kala itu. Hitungannya per bola lampu yang dimiliki dan hanya hidup di malam hari saja. Kalau punya TV, biayanya nambah lagi.

Makanya, bagi yang tak punya banyak uang ya terpaksa mendapatkan penerangan dari lentera dan sejenisnya.

Kenapa di tahun tersebut kampung saya belum mendapatkan pasokan listrik? Padahal beberapa desa tetangga sudah mendapatkannya?

Berdasarkan cerita dari Ibu saya. Dulu, ketika ada program pendirian tiang listrik ke desa-desa, kampung saya mengalami hambatan. Salah satu tetangga keberatan jika pohon duriannya harus ditebang. Rencananya tempat pohon durian tersebut akan dijadikan sebagai tempat tiang listrik.

Ah, entahlah bagaimana cerita lengkapnya. Jika hanya itu permasalahannya, apakah tidak bisa diusahakan dicarikan tempat lain? Tapi ya sudahlah ya, cerita itu memang terjadi dari mulut ke mulut. Bagaimana kejelasannya, tak ada yang tahu kecuali pihak pemerintah desa. Mungkin.

Baca juga: Seni Mengasuh Inner Child yang Terluka

Hidup Tanpa Listrik, Gimana Rasanya?

Ya kalau sekarang, hidup tanpa listrik bisa bikin geger. Padam sebentar saja, segala pekerjaan bisa terhambat. Di posisi saya sendiri misalnya, gimana mau nulis? Gimana mau update blog? Gimana mau eksis di sosmed?

Tapi, kalau bicara dulu, seingat saya ya rasanya biasa-biasa saja sih. Sebab sebelumnya sudah terbiasa hidup tanpa listrik. Saban sore, saya selalu mendapat tugas dari Ibu untuk menghidupkan banyak lentera lalu menempatkannya di beberapa lokasi. Dapur, rumah, kamar mandi, dan di dekat pagar.

Rutinitas lain terkait hal itu, Ibu sering mengajari saya cara bikin sumbu lentera baik dari pakaian bekas maupun dari buah kapuk randu. Beberapa kali, ketika ke pasar, Ibu juga sering membawa saya ke toko yang menjual berbagai jenis lentera. Jatuhnya kaya beli bola lampu gitu.

Hal paling manis, ya menurut saya ini ingatan yang manis karena kesempatan untuk mengalaminya kembali sangat kecil. Setiap kali hendak bepergian di malam hari, kami harus membawa obor yang terbuat dari bambu.

Terus, kalau ada acara-acara besar. Entah hajatan, mantenan, pengajian dan sebagainya, orang-orang di kampung saya menggunakan petromaks. Saya dan saudara-saudara selalu menyukai proses penyalaan petromaks. Rasanya keren sekali kala sumbu petromaks menjadi terang secara perlahan.

Baca juga: Cara Berdamai dengan Masa Lalu

Petromaks

Tak Bisa Hidup tanpa Minyak Tanah

Dibanding tak bisa hidup dengan listrik atau kelabakan jika listrik padam. Ketika saya masih kecil, orang-orang di kampung lebih tidak bisa hidup tanpa minyak tanah. Lentera, petromaks dan obor tak bisa menyala tanpanya.

Makanya, kalau ada kelangkaan minyak tanah atau harga minyak tanah naik. Orang-orang jadi kelimpungan. Sama kelimpungannya seperti saat listrik padam dan saat harga listrik kembali naik.

Baca juga: Realita Hidup di Desa

Hidup Selalu Ada Tantangannya

Adanya listrik memang mempermudah banyak hal. Utamanya soal penerangan, kampung saya sekarang lebih terang dibandingkan dulu. Setiap rumah juga sudah banyak yang punya TV dan kulkas masing-masing.

Masih terang di ingatan. Ketika bulan puasa tiba dan ingin berbuka dengan yang dingin-dingin. Saya dan saudara terpaksa ngabuburit ke desa tetangga untuk membeli es batu. Perjalanan yang kami tempuh pulang pergi kurang lebih 2 jam lamanya.
Saat hendak menonton sinetron, kami juga harus main ke rumah tetangga yang mampu menyambung listrik ke desa tetangga.

Dulu, ketiadaan listrik tak terlalu jadi masalah. Justru ketiadaan minyak tanah yang lebih bikin bermasalah. Sekarang malah sebaliknya, tak ada minyak tanah sih aman. Tapi jika tidak ada listrik, sungguh bisa bikin pusing 7 keliling.

Jadi ingat kejadian beberapa waktu lalu. Ketika masyarakat Madura bergiliran mengalami pemadaman listrik karena ada gangguan kabel listrik di bawah jembatan Suramadu. Rasanya jadi mati gaya karena gangguan terjadi hampir 1 mingguan.

Ya, inilah hidup. Setiap masa punya tantangannya sendiri-sendiri. Kalau kamu, punya cerita yang sama? Sempatkah kamu hidup di masa di mana listrik belum masuk ke kampungmu?

Spread the love

2 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.