Cara Berdamai dengan Dir

Cara Berdamai dengan Diri Sendiri dan Masa Lalu

Cara Berdamai dengan Diri – Namanya juga manusia, lahir ke dunia memang lengkap dengan takdir dan ujiannya. Makanya banyak yang bilang jika setiap orang pasti memiliki titik nolnya sendiri. Yakni masa-masa paling sulit dalam hidup.

Saya pun pernah mengalami. Ada masa lalu yang begitu sulit untuk saya lalui. Sampai kemudian saya tiba di titik menyesali apapun yang saya alami. Rasanya, semuanya terasa salah.

Parahnya, saya terjebak dalam rasa bersalah berkepanjangan. Sampai-sampai saya tak tahu harus berbuat apalagi untuk memperbaiki hidup yang terlanjur amburadul.

Baca juga: Kategori Tips Menulis

Penyebab Menolak Apa yang Terjadi pada Diri

Media sosial turut serta memperburuk keadaan saya. Setiap kali melihat teman-teman kuliah atau pun teman SMA. Saya merasa kalah dalam segala hal. Kok mereka semua nampak bahagia, ya?

Banyak yang sudah menikah dan memiliki anak. Sementara saya, hilal jodonya saja tak kunjung terlihat. Jika pun ada teman yang belum menikah, setidaknya secara ekonomi mereka berkecukupan dan memiliki karir yang cemerlang. Sedangkan saya, masih memiliki banyak tanggungan hutang yang mengatri untuk diselesaikan.

Yap, membandingkan hidup kita denga hidup orang lain menjadi salah satu penyebab kenapa kita menolak apa yang terjadi pada diri. Alih-alih menerima apa yang sudah terjadi, baik dan buruknya, kita malah seringkali justru terus mencari-cari kesalahan diri.

Penyebab lainnya, kita seringkali terjebak dalam standar-standar sosial yang dibentuk oleh lingkungan. Umur 30 harusnya sudah menikah, harusnya sudah punya anak, harusnya punya karir yang cemerlang, harusnya sudah punya mobil, harusnya sudah punya rumah, dan harus-harus lainnya.

Kalau tidak? Kita dianggap layaknya aib yang harus dibenamkan ke dalam lapisan bumi terdalam. Sehingga lambat laun kita akan merasa samakin kalah dalam kehidupan ini ketika standar-standar tersebut tak kunjung juga bisa kita penuhi.  

Cara Berdamai dengan Diri Sendiri dan Masa Lalu

Tentu saya pernah menjadi orang yang paling membenci hidupnya sendiri. Ada rasa tak terima dengan apa yang sudah terjadi. Kenapa mereka bahagia dan saya tidak? Kerjaanya, protes saja kepada tuhan sepanjang hari.

Jatuhnya, saya cenderung menyalahkan apa-apa yang terjadi di masa lalu. Kenapa saya dulu begini? Kenapa tidak begini saja? Ujung-ujungnya saya menyalahkan takdir.   

Tapi itu dulu, kini saya merasa telah bisa berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu yang sulit. Kenapa saya bisa mengatakan hal ini? Sebab saya telah menerima diri saya sendiri dan masa lalu yang menurut saya kurang baik.  

Sebelum Berdamai, Akui dan Terima Apa yang Terjadi

Tentu kamu akan bertanya, gimana biar kita bisa berdamai dengan diri dan masa lalu? Ok, saya juga pernah mengajukan pertanyaan yang sama.

Sebelum berdamai, memaafkan, dan sebagainya. Ada satu proses yang haru kamu lalui. Yakni mengakui dan menerima diri dan masa lalumu secara utuh. Tanpa syarat, tanpa tapi.

Soal bagaimana cara menerima ini, saya temukan jawabannya setelah mengikuti program Parade Inner Child Healing dari Ruang Pulih. Bagaimana cerita awal mula saya mengikuti program ini bisa kamu baca di sini, mengenal inner child. (Untuk link, blog dalam perbaikan. Kalau sudah selesai saya akan perbaiki atau teman-teman nanti bisa berkunjung ke kabarini.com)

Proses mengakui dan menerima perlu diucapkan. Tak bisa hanya ada di angan-angan atau pikiran saja. Apalagi mengasumsikan diri sudah mengakui dan menerima kenyataan padahal sebenarnya tidak. Proses menerima ini juga perlu terus dilakukan sampai penerimaan tersebut terekam di bawah alam sadar kita. 

Baca Juga: Mimpi-Mimpi tentang Depok

Proses Mengakui dan Menerima Kenyataan

Lalu apa yang perlu kita lakukan? Kalau saya, saya memilih tempat yang sunyi. Karena tak punya kamar pribadi, saya duduk di musala rumah. Saya duduk bersila dengan posisi paling nyaman. Saya pejamkan mata dan menyadari setiap helaan napas.  

Setelah merasa tenang dan fokus. Saya pun mengucapkan kalimat-kalimat penerimaan akan diri dan masa lalu secara pelan. Saya kasih contoh apa yang saya ucapkan.

Hai, Luluk! Apak kabar? Terima kasih ya sudah bertahan sejauh ini. Saya tahu itu tidak mudah. Karena itu, saya terima dan saya maafkan segala kesalahanmu. Tak apa kok, salah langkah dalam hidup itu hal normal. Ingat, jangan sampai merasa dikejar waktu. Akan selalu ada kesempatan untuk memperbaikinya.  

Hai, masa lalu. Terima kasih sudah menjadi bagian hidupsaya. Baik buruknya, kamu saya terima sepenuhnya. Sepahit apapun kamu, saya tak akan lagi menyangkal keberadaanmu. Tapi, mohon jangan menyiksa saya, ya. Mari berdamai, saya ingin kamu jadi pembelajaran yang bermakna bagi saya.

Tentu ini hanya contoh saja. Kamu bisa membuat kalimat-kalimatmu sendiri yang bisa kamu sesuaikan dengan permasalahan yang kamu hadapi. Jangan takut berkreasi selama itu adalah kalimat-kalimat pernyataan bahwa kamu telah menerima diri dan masa lalumu.

Selain dengan metode yang mirip bersemedi, duduk bersila dan menyadari setiap hembusan napas. Saya juga pernah mencoba menulis jurnal tentang apa yang saya rasakan.

Ketika menulis, saya memilih posisi duduk yang tegak agar lebih nyaman. Saya dengarkan musik dengan melodi ringan dan pelan seperti lagu-lagu Tulus atau Yura Yunita. Sebelum mulai saya dengarkan satu lagu dulu untuk menyelami perasaan. Barulah saya menulis kalimat-kalimat pengakuan dan penerimaan pada diri dan masa lalu.

Jurnal ini tidak saya tulis setiap hari, sih. Tapi ketika saya merasa butuh, saya pasti menuliskan apa yang ada dalam hati dan pikiran saya ke dalam jurnal. Atau pada lain waktu saya baca ulang tulisan-tulisan ketika galau kembali datang.  

Baca juga: Realita hidup di desa

Pengakuan dan Penerimaan Itu Harus Selamanya

Apakah sekali berdamai akan terus berdamai? Kapan sebenarnya prosesi pengakuan dan penerimaan akan diri dan masa lalu ini bisa dihentikan?

Mari saya luruskan satu hal. Damai artinya memang tenang, tenteram, rukun, tidak bermusuhan. Tapi berdamai dengan diri dan masa lalu bukan berarti hati dan hidupmu selalu tenang dan tenteram seutuhnya dan selamanya.

Sudah menjadi hukum alam jika kehidupan yang manusia lalui selalu bergejolak, berdinamika. Karenanya, proses pengakuan dan penerimaan ini harus terus dilakukan. Sampai ia menjadi sebuah kebiasaan yang terekam di alam bawah sadar.

Setiap kali kita tertimpa hal buruk, kita secara otomatis langsung bisa melakukan proses pengakuan dan penerimaan di mana saja dan kapan saja. Dengan kata lain, kita punya pengendalian diri yang kuat dalam merespon apapun.  

Saya tentu masih terus berjuang, terus belajar, terus mengulang proses pengakuan dan penerimaan diri dan masa lalu ini. Saya tak menargetkan apapun, saya hanya ingin ini menjadi kebiasaan. Sejauh ini, saya merasa ini baik untuk saya.

Spread the love

6 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.