Sungai yang Tercemar

Gadis Kecil yang Tinggal di Tepi Sungai yang Tercemar

Sungai yang Tercemar – Kutemukan sungai itu di google map. Namun aku tak bisa memastikan namanya. Sejak kecil aku memang tak tahu dan tak ingin tahu. Jadi aku tak pernah bertanya. Bukan tak peduli, hanya saja aku belum paham betul akan fungsi sungai yang sebenarnya.

Dulu, Bapakku tinggal di salah satu kosan di tepi sungai itu. Sungai yang tercemar, airnya keruh, penuh sampah, dan menjadi pembuangan akhir limbah kamar mandi warga setempat. Termasuk kamar mandi kosan Bapakku.

Sungai itu, aku yakin cukup dalam, cukup lebar. Sesekali aku sering mengintipnya dari kejauhan, dari sela-sela dinding seng yang tak tertata rapat. Ketika hujan, airnya sudah pasti meluap sampai masuk ke kosan Bapakku yang hanya sepetak kamar itu.

Setahun sekali, Ibu membawaku berkunjung ke Bapak. Biasanya setiap Ramadan atau pas libur sekolah. Kami berempat, termasuk adikku tidur di kosan Bapak yang sempit nan pengap. Tapi apapun kondisinya, aku selalu bahagia setiap kali berkunjung ke Bapak.

Ruang Wawancara Kerja

“Anda perlu mengikuti pelatihan yang kami adakan. Kami pastikan, setelahnya Anda bisa langsung diterima di salah satu perusahaan yang bekerjasama dengan kami.”

Lelaki jangkung berkacamata di depanku dipenuhi keyakinan. Kurus, wajah tirus, rambutnya tipis-lurus. Aku jadi sedikit bersemangat sebab ada harapan untuk bisa langsung bekerja tak lama setelah menjadi sarjana. Melihat gelagatku, pria itu melanjutkan pembicaraan.

“Namun, Anda harus membayar biaya pelatihan dari kami.”

Aku sedikit tercekat. Mau bertanya tapi kebingungan. Kenapa aku harus membayar pelatihan itu?

“Hanya 600 ribu saja,” lelaki itu tersenyum sembari mengeluarkan selembar formulir dari dalam laci meja. “Bisa saya terima sekarang uang untuk biaya pelatihannya?”

Aku membalas tatapan lelaki itu. Kusunggingkan senyum demi menutupi kegelisahan hati. Ah, bukan seperti ini yang kumau. “Saya tidak pegang uang sekarang, Pak. Uang saya tersisa untuk ongkos pulang saja.”

“Kalau begitu, kapan Anda bisa membayar?”

Baca Juga: Cara Berdamai dengan Diri Sendiri

Wawancara Kerja Fiktif

Aku menuruni tangga menuju lantai dasar. Kedua tanganku memegang tali tas cangklong yang bertengger di pundak kanan. Aku menunduk dan langkahku gontai. Rugi sudah, datang jauh-jauh dan sampai mengeluarkan uang untuk ongkos perjalanan. Karena sebuah panggilan wawancara kerja fiktif.  

Aku menggerutu dalam hati. Uang 600 ribu merupakan nominal besar bagiku. Jadi aku tak berbohong. Aku benar-benar tak memiliki uang tersebut, sekalipun boleh membayar 3 hari lagi, seminggu lagi. Tetap saja aku tak akan punya.

Entah perusahaan apa yang kudatangi. Kantornya ada di komplek ruko sebuah perumahan. Ruko itu disulap persis seperti sebuah kantor. Lantai bawah disekat-disekat membentuk ruang-ruang kerja sehingga tersisa satu lorong kecil menuju pintu keluar utama. Meski begitu, aku tak melihat siapapun keculi seorang resepsionis perempuan yang duduk di dekat pintu keluar. 

Sang resepsionis tak melepaskan pandangannya dariku yang berjalan mendekat. Merasa diperhatikan, kulemparkan senyum tawar tanda berpamitan. Dia membalas dengan ramah dan matanya terus menatapku yang berjalan menjauh menuju jalan raya.

Baca Juga: Mimpi-Mimpi Tentang Depok

Sungai yang Tercemar        

Tak jauh dari kator perusahaan yang kudatangi. Sepasang suami istri pemilik sebidang tanah dan rumah, tinggal berdua saja. Anak angkat mereka tinggal dengan suaminya selepas menikah. Anak kandung, mereka tak punya. Banyak yang bertanya, kenapa anak angkatnya tidak tinggal dengan mereka saja? Sebagian yang lain tak tahu jawabannya, sebagian yang lain hanya bisa bergunjing saja.       

Pasangan suami istri itu cukup beruntung sebab memiliki tanah yang berdampingan langsung dengan jalan raya. Adapun peta rumah mereka. Di bagian depan, berdiri sebuah warung makan yang disewakan dan sedikit tanah kosong sebagai halaman dan pintu masuk. Di tepi pintu masuk yang tak berpagar tersebut tumbuh pohon mangga yang rutin berbuah tiap musimnya tiba.

Pada bagian tengah terdapat dua bangunan. Seperdelapannya menjadi rumah tinggal, seperempatnya menjadi kontrakan 3 petak. Lalu di bagian belakang ada WC, sumur, dan kamar mandi yang berbatasan langsung dengan sungai yang tercemar.

Seorang gadis berusia 10 tahun berlari-lari memasuki pekarangan yang kusebutkan tadi. Rambutnya dikepang, sedikit gemuk, memakai kaos dan rok lusuh. Sang tuan perempuan yang sedang bersantai di depan rumah menyapanya. “Wes mule?

Gadis kecil itu tak menjawab. Kemampuan bahasa Jawanya masih level listening. Jadi ia bingung harus berkata apa. Takut mendapat pertanyaan lain, ia memilih mempercepat larinya.

Dari pintu masuk ia berbelok ke kiri melewati tanah sempit antara warung makan dan kontrakan tiga petak. Kemudian ia berbelok lagi ke arah kanan melewati gang sempit di samping kontrakan tiga petak. Keluar dari gang ia kembali berbelok ke kanan. Melewati deretan WC, sumur, dan kamar mandi. Kosan Bapak dari gadis kecil itu tepat berada di depan kamar mandi. Menempel pada dapur sang pemilik rumah.

Soto Kepala Ayam

Gadis kecil itu selesai mandi dan sudah berganti pakaian. Ia duduk bersama adik laki-lakinya di atas dipan yang lebarnya hampir memenuhi seperdelapan kamar kosan berukuran 8 meter saja. Sebuah kamar kos multifungsi. Sebagai tempat tidur, tempat menaruh barang dagangan, dan juga dapur.

“Jangan lupa berdoa dulu.” Begitu pesan Sang Ibu ketika menyuguhkan dua piring nasi dengan lauk soto kepala ayam. Kedua kakak beradik yang masih kanak-kanak itu menyambut makan siang mereka dengan mata berbinar-binar dan langsung makan dengan lahap.

“Ibu, besok masak sop bakso, ya!” Mendengar permintaan anak perempuannya, Sang Ibu mengangguk sambil tersenyum.

Itulah kenapa, gadis kecil itu selalu bahagia tiap kali mengunjungi Bapaknya yang tinggal terpisah demi mengais rezeki. Ia bisa makan lebih enak, bisa melihat jalan raya, kendaraan, lampu-lampu, dan bermain dengan teman baru.  

Baca Juga: Seni Mengasuh Inner Child yang Terluka

Kenangan yang Tertinggal 

Aku termangu di tepi jalan raya yang dulu kukenal dengan baik. Di sekitarnya ada SD negeri yang gedungnya semakin megah. Lapangan sepak bola yang pagarnya berganti deretan toko-toko kecil. Pabrik besar yang dikelilingi tembok tinggi. Serta kompleks ruko yang baru saja kudatangi.

Tapi apa yang aku cari tak lagi ada. Pohon mangga yang rutin berbuah itu tak ada. Akarnya saja sudah tak bersisa. Warung makan itu, rumah itu, juga tak lagi terlihat. Semua tertutup dinding seng tua yang sudah berkarat.  

Kuhampiri salah satu toko di dekat lapangan bola. Pada pemiliknya kutanyakan ke mana perginya tempat yang dulu pernah kutinggali itu?

“Oh, sudah dijual ke pihak pabrik, Mbak.” Begitu jawabnya.   

NB: Tulisan fiksi yang terinspirasi dari memoar masa kecil.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.