Janji Jogja kepada Kita

Janji Jogja kepada Kita: Angkringan, Lagu, dan Rindu

Janji Jogja kepada Kita – Melancong ke Kota Jogja bisa jadi impian sebagian orang. Aku salah satunya.

Ada banyak cerita yang kudengar tentang kota yang satu ini. Katanya, suasananya tenang, orangnya ramah-ramah, dan harga makanan termasuk biaya hidup murah.

Terus katanya lagi, ke Jogja tak cukup sekali. Kota ini punya magnet rindu yang sangat kuat. Karenanya, kita yang pernah ke sana akan selalu ingin kembali berkunjung.

Benarkah? Mari kuceritakan pengalamanku sebagai bukti.

Melancong ke Jogja di Libur Lebaran

Di libur lebaran kemarin, impianku melancong ke Kota Jogja akhirnya kesampaian. Senang, tentu. Excited apalagi.

Meski sebelumnya aku pernah ke sana, tapi itu bukan dalam rangka jalan-jalan. Jadi pastinya perasaan dan pengalaman yang didapat juga berbeda.

Kali ini, aku pergi bersama dua orang kerabat dekat. Kami seumuran dan aku yang paling tua. Jadi mau tidak mau, akulah leader dari perjalanan ini.

Kami pergi dengan bugdet minimal. Aku sendiri hanya membawa uang sekitar 800 ribu di luar biaya penginapan dan tiket kereta.

Berdasarkan perhitungan sendiri, harusnya sih, uang segitu cukup buat jalan-jalan di Jogja barang dua hari atau tiga hari. Asal pintar-pintar menekan pengeluaran sampai ke titik minimal.

Maksudnya, harus parah banget gitu iritnya? Ya, kurang lebih begitu. 😁

Apakah Jogja Aman?

Sebelum berangkat, santer kabar tenyang Klitih yanh kembali berulah. Kala itu korbannya seorang anak SMA.

Tentu kabar tersebut membuatku sedikit takut. Yakin, nih, mau ke Jogja? Pikiran itu tiba-tiba sering muncul di kepala ketika waktu keberangkatan makin dekat.

Tapi mau gimana? Rencana sudah dibuat. Tiket sudah dibeli. Masak iya mau digagalin begitu saja?

Untungnya, saudara sudah mencari tahu duluan. Via google tentunya. Berdasarkan info yang ia baca, tak perlu khawatir sama keberadaan klitih. Asal….

Jangan pergi ke tempat yang sepi. Hindari melewati jalanan yang sepi. Apalagi di malam hari.

Ya, kurang lebih begitu. Pokoknya harus selalu mawas diri. Gak cuma ke Jogja, sih. Ke mana pun kita pergi, kita memang mesti tahu bagaimana cara melakukan perjalanan yang aman di suatu tempat.

Taman Sari Jogjakarta

Wisata Kota di Jogjakarta

Ada banyak wisata di Jogja. Mulai dari wisata alam, wisata kuliner, juga wisata sejarah.

Aku dan tim tujuannya cuma keliling kota ja. Jadi sebelum keberangkatan kami sudah menentukan tema perjalanan kita, yakni wisata kota dan wisata sejarah sembari kulineran.

Ada jadwal kunjungan yang sudah kami susun. Tapi pada kenyataannya, kami tak pernah mengikuti agenda tersebut. Kami berjalan saja apa adanya sesuai keinginan dan kebutuhan.

Kami juga gak terlalu ngoyo, tak ada target apapun. Dari awal, meski kami sok-sokan bikin rencana ini dan itu. Semangat kami dari awal adalah menikmati Kota Jogja dengan senyaman mungkin. Jadi, ya, jadwal berantakan tak jadi masalah. 😁

Alhasil, di Jogja kami kebanyakan ngayap alias jalan kaki, kulineran, belanja dan hanya mengunjungi beberapa tempat wisata saja. Tempat penginapan juga sempat ganti demi mengejar kenyamanan.

Lalu apa saja tempat wisata yang kami kunjungi? Taman Sari, Alun-Alun Kidul, Malioboro, Tugu Batu, Perempatan Titik 0 Kilometer, Pasa Bering Harjo, dan Pendopo Lawas.

Apa yang kita lakukan di tempat-tempat wisata tersebut? Gak ada sih, kami cuma jalan ja menikmati suasana. Sesekali beli makan dan belanja di beberapa tempat.

Di perempatan Titik 0 Kilometer kami malah cuma duduk ja di tepi trotoar menikmati jalanan yang ramai.

Lagi-lagi tema wisata kami pun kadi gak jelas. Mau dibilang wisata sejarah, kami juga tak banyak belajar soal sejarah di sana. Di Taman Sari saja, kami berkeliling sendiri mengandalkan Google Maps untuk menemukan lokasi sumur bawah tanah.

Baca Juga: Hidup di Desa Tanpa Listrik

Harga Makanan di Jogja

Kami sempat mampir di angkringan Petruk yang letaknya ada di jalan Margo Utomo. Ini tuh jalan menuju ke Tugu Jogja dari arah Malioboro dan Stasiun Jogja.

Beberapa makanan yang kami beli adalah sate-satean. Sate telur puyuh, sate kerang, sate usus, dan entah satu apalagi. Lupa aku. Harganya pertusuk rata-rata Rp. 3.000. Untuk ukuran tempat wisata tentu harga ini termasuk murah.

Saat makan di Raminten dan Bakmi Jowo Mbah Gito, aku juga kaget dengan harganya. Kami bertiga tak lebih dari 130 ribu biayanya. Padahal kami sudah pesan banyak dan enak.

Kami juga sempat icip-icip KFC ala Jogja, Olive Fried Chiken. Rasanya enak banget, gak kalah sama fried chiken produk luar negeri.

Harganya, beuh gak bakalan bikin kantong menjerit. Waktu itu kami habis 30 ribu. Sudah dapat 3 nasi, 2 paha bawah, 1 sayap, dan 1 dada. Rinciannya, maaf lupa. 😁

Angkringan Jogja
Aneka Menu Makanan Khas Angkringan Jogja

Baca juga: Surat untuk Diri Kecilku

Live Music di Pendopo Lawas

Bicara Pendopo Lawas, rasanya tak bisa lepas dari nama Tri Suaka. Pasalnya, dia sering manggung di sana katanya. Yah, aku gak terlalu mengikuti perjalanan Tri Suaka.

Waktu kami memilih berkunjung ke Pendopo Lawas juga bukan karena Tri Suaka. Salah satu saudara memang ingin menikmati acara live music. Sebagai leader yang baik hati, ya aku penuhi saja apa keinginan anggota.

Ketika kami sampai, kami gak berekspektasi apapun. Ya, namanya cuma pengen tahu. Tapi, malam hari di Pendopo Lawas saat itu tiba-tiba jadi syahdu.

Konser kecil dari seorang musisi lokal mampu merunah suasana. Suaranya yang merdu menyihir semua pengunjung yang datang. Tak ayal semua pengunjung jadi ikutan bernyannyi.

Aku sendiri juga ikutan. Sebuah pengalaman yang menyenangkan karena aku sebelumnya tidak pernah mau bernyanyi dengan suara keras di tempat umum sekali pun rame-rame. 😂

Baca juga: Alasan Berhenti Menulis

Janji Jogja kepada Kita

Apa janji Jogja kepada kita? Gak ada, sih. Jogja tak pernah berjanji apapun. Jogja hanya mempersilahkan siapa saja yang ingin berkunjung.

Perkara angkringan, lagu, dan rindu. Itu hanya apa yang kurasakan. Soal angkringan, saya kaget karena di sana angrkingan sudah macam jamur, banyak banget.

Soal lagu dan rindu. Perjalanan ke Jogja kemarin cukup menjadi kenangan hangat. Sebab aku benar-benar menikmati perjalanan. Dan aku rindu untuk kembali mendengar live music di sana.

Spread the love

2 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.