Tahun 2012, waktu saya baru lulus kuliah, saya sempat punya keinginan untuk membuat brand clothing sendiri.
Waktu itu idenya sederhana. Saya ingin membuat kaos dengan kata-kata bahasa Madura. Selain jualan, sekalian ingin mengangkat bahasa daerah.
Saya masih ingat, waktu itu saya mengajak join saudara sepupu. Jadinya kami pun berkeliling di daerah dekat ITS, karena dari hasil cari di internet, di sana ada beberapa vendor sablon kaos custom.
Sekarang, kalau melihat ke belakang, rasanya apa yang saya dan saudara sepupu saya lakukan bisa dibilang nekad. Masih muda, belum punya pengalaman bisnis, bahkan modal pun belum ada. Tapi tetap datang dan bertanya ke pemilik vendor.
Untungnya, orangnya baik. Dia menjelaskan harga dengan detail, terbuka, dan tidak meremehkan kami.
Tapi tahu apa yang terjadi setelahnya? Sampai di situ saja. Rencana membuat brand clothing lokal itu tidak pernah benar-benar jalan. Tidak ada kelanjutan.
Saat ini, saya sendiri mungkin tidak ke arah sana lagi. Sekarang saya lebih ingin fokus ke kebun, ke hal-hal yang lebih dekat dengan keseharian saya.
Tapi saya tahu, di luar sana pasti masih ada yang berada di posisi yang sama seperti saya dulu. Punya keinginan memulai brand clothing sendiri, tapi belum benar-benar tahu harus mulai dari mana.
Dan dari pengalaman yang sempat saya rasakan itu, ada beberapa hal yang kalau dipikir sekarang, ternyata cukup menentukan keberhasilan bisnis. Beberapa di antaranya saya rangkum di sini.
1. Tidak Membuat Rencana Bisnis
Kalau diingat lagi, waktu itu kami benar-benar hanya bermodal niat. Duduk, ngobrol sebentar, merasa idenya menarik, lalu langsung bergerak.
Tidak ada rencana yang benar-benar dipikirkan. Tidak pernah duduk untuk membahas, sebenarnya mau dibawa ke mana brand ini. Mau jual ke siapa, konsepnya seperti apa, dan langkah setelah produksi itu apa.
Pokoknya waktu itu yang penting mulai dulu.Sekilas memang terasa tidak masalah. Bahkan sempat terasa menyenangkan, karena semuanya serba spontan.
Tapi setelah bertemu vendor dan tahu gambaran biaya, di situlah mulai terasa kosong. Kami tidak tahu harus lanjut ke mana. Tidak ada pegangan. Tidak ada gambaran langkah berikutnya.
Akhirnya, ya berhenti di situ saja.
Kalau dipikir sekarang, mungkin bukan karena idenya tidak bagus. Tapi karena tidak ada rencana yang menahan langkah itu tetap berjalan. Karena tanpa rencana, semuanya jadi seperti jalan sebentar, lalu hilang begitu saja.
2. Tidak Mau Belajar dan Riset Sebelum Memulai
Selain tidak punya rencana, satu hal lain yang baru saya sadari sekarang, waktu itu kami juga tidak benar-benar mau belajar.
Kami datang ke vendor dengan kepala yang hampir kosong. Tidak tahu gambaran harga pasar, tidak tahu proses produksi, bahkan tidak benar-benar paham bagaimana bisnis clothing itu berjalan. Pokoknya waktu itu hanya modal niat.
Selama masih di tahap ide, semuanya terasa mudah. Tapi begitu mulai bersentuhan dengan hal yang lebih nyata, seperti biaya produksi, minimal order, dan hal teknis lainnya, kami langsung merasa mentok.
Dan di situ kami berhenti. Kalau diingat sekarang, rasanya seperti menyerah sebelum benar-benar mulai. Bukan karena tidak mampu, tapi karena memang tidak punya bekal.
Kami tidak punya cukup pengetahuan untuk mencari jalan keluar. Tidak tahu harus menyesuaikan di bagian mana, tidak tahu alternatif apa yang bisa dicoba. Akhirnya, hambatan kecil saja sudah terasa seperti jalan buntu.
Padahal kalau dari awal mau meluangkan waktu sedikit untuk belajar dan riset, mungkin ceritanya bisa berbeda. Setidaknya saat menemui kendala, tidak langsung berhenti, karena masih punya pegangan untuk mencari solusi.
3. Salah Pilih Bahan
Waktu itu saya dan sepupu memang belum sampai ke tahap produksi. Jadi kami belum sempat mengalami salah pilih bahan. Tapi justru setelah tujuh belas tahun berlalu, saya malah merasakannya di konteks yang berbeda.
Saya sempat ingin mencoba membuat produk dari kain ecoprint. Rencananya mau dijadikan baju atau mungkin topi. Di awal mencoba, saya memilih kain yang paling mudah didapat dan harganya murah, yaitu kain katun biasa.
Waktu itu saya pikir, yang penting bisa mulai dulu. Tapi setelah dijalani, baru terasa masalahnya.
Secara hasil, kainnya memang jadi. Tapi begitu mulai dihitung untuk dijual, rasanya serba tanggung. Mau dijual mahal, kualitas kainnya kurang mendukung. Mau dijual murah, proses pembuatannya justru cukup panjang dan tidak sederhana.
Di situ saya baru benar-benar paham, memilih bahan itu bukan hal kecil. Bukan cuma soal murah atau mahal, tapi juga soal kecocokan dengan produk yang ingin dibuat. Kaos, sweater, atau produk lain, semuanya butuh karakter bahan yang berbeda.
Dan kalau di awal sudah salah pilih, dampaknya bisa ke mana-mana. Bukan hanya ke hasil akhir, tapi juga ke harga jual dan bagaimana produk itu diterima.
Nah, buat kamu yang mau memulai brand clothing lokal sendiri, yuk bisa belajar di Weva Textile. Di sana sudah dijelaskan secara lengkap apa saja tips untuk memilih bahan kain yang cocok untuk bisnis kaos.
4. Tidak Punya Pembeda atau Ciri Khas
Dulu saya pikir, cukup dengan membuat kaos bertuliskan bahasa Madura, itu sudah bisa jadi ciri khas. Tapi setelah dilihat lagi sekarang, ternyata tidak sesederhana itu.
Konsep seperti itu sebenarnya sudah ada juga di tempat lain. Sama-sama mengangkat bahasa daerah, sama-sama dijadikan desain kaos. Akhirnya yang saya bayangkan sebagai “pembeda” itu sebenarnya belum benar-benar kuat.
Seandainya waktu itu tetap dijalankan, kemungkinan besar brand yang saya buat hanya akan jadi salah satu dari sekian banyak yang mirip. Tidak salah, tapi juga tidak menonjol.
Sementara di bisnis seperti clothing, punya pembeda itu penting. Karena pilihannya banyak, dan orang tidak punya banyak waktu untuk memperhatikan semuanya. Kalau tidak ada hal yang terasa berbeda, ya mudah sekali terlewat.
Baca juga: Strategi Mengelola Sosial Media untuk Bisnis
5. Tidak Menentukan Target Market

Setelah rencana membuat brand clothing bersama sepupu itu tidak jadi, ternyata saya tidak benar-benar berhenti di situ.
Tidak lama setelah itu, saya mencoba lagi di bidang yang sama, kali ini sendirian dan dengan cara yang berbeda.
Waktu itu saya berpikir, kalau membuat brand sendiri terasa terlalu berat, mungkin saya bisa mulai dari yang lebih sederhana dulu. Akhirnya saya mencoba jadi reseller produk clothing.
Produk yang saya pilih waktu itu adalah kaos dengan tulisan motivasi hidup. Saya tertarik karena menurut saya desainnya bagus dan pesannya juga positif.
Tanpa banyak pertimbangan, saya langsung ambil paket reseller yang paling murah. Kalau tidak salah isinya sekitar 12 kaos.
Di kepala saya waktu itu sederhana, “yang penting mulai dulu, nanti sambil jalan pasti bisa dijual.” Tapi setelah barangnya datang, di situlah saya mulai merasa bingung. Saya tidak tahu harus menjualnya ke siapa.
Akhirnya saya coba tawarkan ke teman-teman, ke saudara, ke orang-orang terdekat. Tapi tidak ada yang benar-benar tertarik.
Bukan karena produknya jelek, tapi karena harganya tidak masuk di kantong mereka. Di situ saya baru paham, mereka memang bukan target yang tepat.
Ya, punya produk saja tidak cukup. Kalau tidak tahu siapa yang akan membeli, atau tidak menemukan orang yang tepat, ya akan berhenti di situ saja. Barangnya ada, tapi tidak ada yang mencari.
6. Persiapan Modal Kurang Matang
Kalau diingat lagi, soal modal ini juga jadi salah satu bagian yang waktu itu tidak benar-benar saya siapkan.
Memang, alasan kenapa rencana bisnis clothing saya tidak jalan bukan semata-mata karena tidak punya modal. Ada faktor lain yang lebih besar, seperti tidak punya rencana yang jelas, tidak riset, dan tidak belajar.
Tapi di sisi lain, soal modal juga tetap berpengaruh. Waktu itu kami datang ke vendor tanpa benar-benar tahu, sebenarnya kami siap produksi atau tidak. Tidak ada perhitungan yang jelas, tidak ada gambaran uangnya dari mana.
Bahkan sempat terpikir untuk mencari pinjaman. Tapi di situ juga mentok. Tidak ada yang bisa dijadikan jaminan, dan akhirnya tidak tahu harus lanjut ke mana. Dari situ saya mulai paham, yang dimaksud persiapan modal itu bukan sekadar “punya uang atau tidak”. Tapi lebih ke sudah dipikirkan atau belum.
Kalau pakai uang sendiri, cukup atau tidak. Kalau kerja sama dengan orang lain, bisa saling percaya atau tidak. Kalau harus pinjam, sudah siap dengan risikonya atau belum.
Hal-hal seperti itu yang dulu tidak kami pikirkan. Dan akhirnya, semuanya berhenti sebelum benar-benar dimulai.
Jadi menurut saya, modal itu memang penting. Tapi bukan berarti harus langsung punya banyak. Yang lebih penting, tahu dulu rencananya bagaimana. Karena dengan persiapan yang jelas, proses memulai biasanya terasa lebih ringan, terutama di awal.
7. Bergerak Tidak Sesuai Kapasitas
Kalau yang ini, pelajarannya bukan hanya dari rencana bisnis clothing yang tidak jadi, tapi dari banyak kegagalan yang pernah saya alami sampai sekarang. Dari semua kegagalan itu saya memahami, bahwa saat memulai sesuatu, termasuk bisnis, kita memang perlu melihat kapasitas diri sendiri.
Waktu itu, saya dan sepupu sebenarnya punya semangat, tapi langkah yang kami ambil tidak benar-benar menyesuaikan dengan kondisi yang kami punya. Belum ada modal, belum punya pengalaman, belum ada gambaran yang jelas, tapi sudah ingin langsung mulai. Akhirnya tidak jalan, dan berhenti begitu saja.
Dari situ juga saya mulai mengerti, kapasitas itu bukan cuma soal uang. Tapi juga waktu yang kita punya, kemampuan yang kita miliki, keterampilan yang sudah dikuasai, kesiapan untuk bekerja sama dengan orang lain, sampai kesiapan menghadapi risiko yang mungkin muncul di tengah jalan.
Hal-hal seperti ini dulu tidak benar-benar saya pertimbangkan, sehingga ketika mulai terasa berat, saya tidak punya cukup pegangan untuk melanjutkan.
Makanya sekarang saya melihat, memulai itu tidak harus langsung besar. Tidak harus langsung terlihat seperti bisnis yang sudah jadi. Bisa dimulai dari yang sesuai kemampuan dulu, sesuai dengan kapasitas yang memang kita punya saat ini. Dari situ, baru pelan-pelan ditambah, sambil belajar dan menyesuaikan langkah.
Karena kalau dipaksakan berjalan di luar kapasitas, yang terjadi biasanya bukan berkembang, tapi justru berhenti di tengah jalan sebelum sempat benar-benar berjalan jauh.
Dari semua pengalaman memulai brand clothing waktu itu, saya jadi paham kalau niat saja memang tidak cukup untuk membuat sesuatu benar-benar berjalan. Banyak hal yang terlihat sederhana di awal ternyata punya pengaruh besar di tengah jalan, mulai dari rencana, riset, sampai cara memulai yang tidak asal jalan.
Dan mungkin itu juga yang sering terjadi pada banyak orang yang ingin memulai bisnis clothing. Bukan karena idenya tidak bisa dijalankan, tapi karena langkah awalnya belum benar-benar dipikirkan dengan matang. Jadi yang paling penting bukan sekadar cepat memulai, tapi memastikan cara memulainya sudah cukup siap untuk dibawa jalan lebih jauh.



