Kondisi hutan di Indonesia

Hai Pemuda! Yuk, Jaga Hutan Indonesia dari Rumah!

Hutan Indonesia Pemuda Indonesia bisa apa? Bisa ikut menjaga hutan dari rumah, dong. Utamanya hutan Indonesia yang sudah mengalami kerusakan parah sejak tahun 80-an.

Kenapa harus pemuda? Ya, sebenarnya semua harus peduli pada permasalah hutan. Baik yang muda maupun yang tua . Sebab fungsi hutan itu berlaku secara global. Tak terbatas oleh umur, administrasi, negara, waktu, dan jarak tempuh.

Cuma, pemuda itu kan penerus bangsa. Artinya, pemudalah yang akan memimpin Indonesia di masa depan. Jadi, pemuda haruslah peduli pada permasalahan hutan di Indonesia dari sekarang.

Bagi Indonesia, hutan bukan sekedar pabrik terbesar penghasil oksigen (O²) dan penyerap karbondioksida (CO²). Hutan juga merupakan kekayaan alam Indonesia yang perlu dijaga, dirawat, dan dipertahankan keberadaannya.

Nah, jika kamu adalah pemuda Indonesia, calon pemimpin masa depan. Kamu bisa berlatih merawat hutan dari rumah dengan melakukan hal-hal yang sederhana. Siap?

Potret Hutan Indonesia

Terlebih dulu, kamu perlu mengetahui tentang gambaran kondisi hutan Indonesia secara umum. Supaya kamu semakin paham, kenapa kamu mesti menjaganya.

Ada berbagai tipe hutan di Indonesia. Di antaranya hutan sabana, hutan mangrove, hutan rawa, juga hutan hujan tropis.

Dari semua jenis hutan yang ada, hutan hujan tropis adalah jenis hutan yang paling mendominasi daratan Indonesia. Tersebar di pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua, dan Jawa.

Hutan hujan tropis sendiri merupakan hutan yang terletak di wilayah beriklim tropis. Dipenuhi pepohonan tinggi berdaun lebar. Mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun. Serta selalu lembab karena memiliki curah hujan yang tinggi.

jenis hutan di Indonesia

Indonesia sendiri pernah dinobatkan sebagai pemilik hutan hujan tropis terluas ke-3 di dunia. Setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo.

Namun, posisi ini sepertinya sudah berubah. Berdasarkan informasi dari Wri-indonesia.org, pada tahun 2020, luas hutan hujan tropis Indonesia turun ke peringkat 4 di dunia.

Sangat disayangkan. Padahal hutan hujan tropis punya banyak keunggulan. Lebih dari separuh flora dan fauna di dunia hidup di hutan jenis ini. Itulah kenapa Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi.

Banyak tanaman dan hewan langka yang hidup di hutan hujan tropis Indonesia. Sebagian juga termasuk hewan endemik atau spesies asli Indonesia. Sebut saja harimau sumatera, burung cenderawasih, owa jawa, orang utan, komodo, bunga raflesia, dan bunga bangkai.

Sungguh, sebenarnya #IndonesiaBikinBangga bukan? Hutannya kaya akan keanekaragaman hayati.

Kerusakan Hutan Indonesia

Mengutip dari situs walhiriau.or.id, pada tahun 1997 saja, Indonesia dinyatakan telah kehilangan sekitar 72% hutan aslinya oleh Wolrd Institute Resources.

Berkurangnya luas hutan di Indonesia disebabkan banyak hal. Selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Pembalakan liar, kebakaran hutan, dan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, serta pemukiman terus terjadi.

Penyebab kerusakan hutan

Saat ini, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk melestarikan hutan. Namun 3 hal tadi masih menjadi ancaman nyata bagi hutan Indonesia sampai saat ini.

Secara angka, Pemerintah Indonesia mengklaim jika kebakaran hutan dan deforestasi (penebangan hutan) jauh berkurang. Tentu ini adalah hal yang perlu untuk diapresiasi.

Namun, kebakaran hutan maupun deforestasi sebaiknya tidak terjadi lagi. Supaya luas hutan yang tersisa saat ini dapat dipertahankan.

Dampak Kerusakan Hutan

Hutan itu adalah tempat tinggal bagi banyak makhluk hidup. Mulai dari mikroorganisme, jamur, bakteri, tumbuhan, dan hewan.

Akar pepohonan yang ada di hutan dapat menahan tanah dan menyerap air hujan. Sehingga bisa mencegah terjadinya longsor dan banjir.

Manusia yang tinggal di sekitar hutan juga banyak yang menggantungkan hidupnya pada hutan. Mulai dari memanfaatkan airnya sampai memenuhi kebutuhan makan dan obat-obatan.

Bagi orang-orang yang tinggal jauh dari hutan, bukan berarti tak ikut merasakan manfaat keberadaan hutan, loh. Hutan merupakan penghasil O² terbesar di muka bumi. Karena hutan pula, milyaran kubik CO² dapat terserap dengan baik.

Karena kemampuannya dalam menyerap CO². Hutan sebenarnya bisa jadi salah satu solusi dalam memitigasi perubahan ilkim.

Fungsi hutan

Memang #HutanKitaSultan. Tapi, jika kerusakan hutan terus terjadi dan tak bisa dihentikan. Maka dampaknya, hutan beserta seluruh fungsinya bisa hilang. Hewan-hewan akan mati dan bencana alam akan terjadi.

Menjaga Hutan Indonesia dari Rumah

Ada sebuah lagu bertajuk #DengarAlamBernyanyi. Lagu ini dinyanyikan oleh Laleilmanino, Chicco Jerikho, HIVI!, dan Sheila Dara Aisha. Lagunya easy listening dan punya pesan mendalam. Yakni mengajak semua orang untuk sama-sama menjaga hutan.

Penasaran dengan lagunya? Yuk, langsung saja klik tautan video di bawah ini! Kamu juga bisa mendengarkannya melalui Spotify dan Apple Music. Terus dengarkan sebanyak-banyaknya, ya! Karena royalti dari lagu ini akan digunakan untuk konservasi hutan Kalimantan.

Lagu ini juga mengingatkan kembali, jika sebenarnya manusialah yang punya kendali untuk menyelematkan hutan. Supaya tak semakin rusak dan berkurang.

Bila kau jaga aku. Kujaga kau kembali. Berhentilah mengeluh. Ingat kau yang pegang kendali. Kau yang mampu obati. Sudikah kau kembali?

Penggalan lirik dari lagu Dengarkan Alam Bernyanyi

Menjaga hutan bisa dilakukan dari rumah, loh. Ini adalah hal yang paling mungkin untuk kamu lakukan jika kamu tinggal jauh dari hutan. Caranya? Bisa dimulai dari hal-hal sederhana berikut!

Menjaga hutan

#1 Bijak Menggunakan Kertas

Kertas itu terbuat dari serat kayu. Memang, kalau produksinya legal. Bahan bakunya pasti berasal dari Hutan Tanaman Industri (HTI).

Meski begitu, kamu harus tetap hemat kertas. Baik berupa kertas HVS, buku tulis, dan atau memo. Bijaklah dalam menggunakan kertas. Sebab 1 batang pohon hanya bisa memproduksi 23 rim kertas saja. Ada yang bilang 16 rim kertas.

Jika permintaan kertas bisa ditekan. Harapannya luas HTI tak perlu lagi ditambah. Karena biasanya, HTI dibuka di atas lahan hutan alam.

Walau Pemerintah Indonesia telah menetapkan HTI dalam golongan hutan. Tetap saja, fungsi HTI tak bisa menggantikan fungsi hutan alam sepenuhnya.

Cara menjaga hutan Indonesia

#2 Mengganti Tisu dengan Lap Kain

Sedikit berbeda dengan kertas yang kebutuhannya mungkin tak bisa ditekan sampai 0%. Untuk tisu rasanya bisa. Karena itu, gunakanlah lap kain yang masa pakainya lebih lama.

Memang sih, tisu lebih praktis, pakai sekali, langsung buang. Tak perlu lah kamu repot-repot mencucinya. Namun itulah sumber masalahnya.

Tisu juga terbuat dari serat kayu. Namun tisu adalah produk sekali pakai yang tak bisa didaur ulang. Sering pula, penggunaannya terjadi secara berlebihan. Sedikit-sedikit, mau mengelap apapun, tisu andalannya. Padahal lap kain ada di lemari. Betul?

Bijak menggunakan kertas

#3 Menghindari Kemasan Kertas

Sama seperti tisu. Banyak kemasan kertas yang tak bisa didaur ulang. Ujung-ujungnya jadi sampah dan tak bisa terdekomposisi dengan cepat. Sebab kemasan kertas biasanya dilapisi plastik.

Hindari penggunaan kemasan kertas sekali pakai di rumah, seperti kertas nasi. Terus jangan pula membawanya pulang ke rumah.

Maksudnya begini, kalau kamu berbelanja atau membeli makanan di luar. Cobalah menolak kemasan kertas. Pakai wadah makanan dari rumah lalu bawa pulangnya pakai tas kain.

Tapi perlu diingat. Penggunaan tas kain dan wadah makanan juga perlu berhemat. Tak boleh sedikit-sedikit berganti hanya karena ada model terbaru. Itu sama saja kamu numpuk sampah namanya.

Cara merawat hutan

#4 Donasi Pohon

Kamu bisa loh berpartisipasi dalam program penanaman pohon meski ada di rumah. Gimana caranya?

Sebenarnya banyak kampanye penanaman pohon yang dilakukan berbagai lembaga dan organisasi peduli lingkungan. Informasi terkait hal ini dapat kamu temukan melalui internet dengan mudah. Kamu bisa bergabung dalam kampanye-kampanye tersebut dengan memberikan donasi.

Sebagai salah satu pilihan, kamu bisa menjadi bagian dari #TeamUpforImpact. Ini adalah sebuah gerakan untuk mengajak semua orang agar bersama-sama menjaga bumi. Dari hal-hal sederhana. Kapan saja dan di mana saja.

Ada dua cara yang bisa kamu lakukan untuk bergabung dalam gerakan ini. Pertama, donasi pohon dengan menghubungi ke email contact@teamupforimpact.org.

Cara kedua, kamu bisa mengikuti misi di teamupforimpact.org. Silahkan mendaftar sebagai member. Lalu ikuti misi harian yang diberikan.

Mudah kok misinya. Kamu hanya diminta mengajak orang lain untuk menjaga bumi melalui sosial media. Konten sudah disediakan, kamu tinggal share saja.

Nah, kamu nanti akan mendapatkan nila 100 point jika berhasil menyelesaikan misi harian. Ketika pointmu sudah mencapai 1.400, kamu bisa menukarkannya dengan satu bibit pohon untuk ditanam.

Bagaimana proses penanamannya? Di mana dan kapan akan ditanam? Pihak dari Teamupforimpact.org akan mengabarkannya padamu.

Keren kan? Hanya bermodal HP. Dalam waktu kurang lebih 14 hari, kamu sudah bisa menanam pohon, loh.

Program donasi pohon

#5 Mengikuti Isu-Isu Permasalahan Hutan Indonesia

Sebagai anak muda jaman now, pasti kamu punya sosial media, kan? Daripada scroll kabar tentang artis terus-menerus. Ayo manfaatkan sosial mediamu untuk mengetahui isu-isu terbaru tentang hutan.

Follow IG @hutanituid, @teamupforimpact, @greenpeace, juga akun-akun lain yang membahas tentang lingkungan, hutan, dan perubahan iklim. Selain bisa menambah wawasan baru. Kamu juga bisa mengikuti berbagai webinar yang membahas tentang lingkungan yang mereka adakan.

Dengan begitu, kamu akan terpacu untuk turut menjaga bumi, termasuk menjaga hutan. Meskipun kamu ada di rumah.

Hutan sabana

#6 Memilah Sampah dan Mengolahnya

Jadi gini, TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) sampah di Indonesia itu kebanyakan belum terpadu. Maksudnya, banyak yang hanya berfungsi sebagai tempat pembuangan dan penumpukan sampah saja.

Sampah organik dan anorganik dicampur. Serta tidak ada pengelolaan sampah lebih lanjut.

Karena itu. Sebisa mungkin, ajaklah orang-orang rumah agar tak mengirimkan sampah ke TPA. Tapi, pilah dan olah sampah dari rumah.

Sampah organik dapur jadikan kompos. Sampah anroganik bisa dijual atau disedekahkan ke pengepul biar masuk ke pabrik daur ulang saja. Sisanya boleh lah dikirimkan ke TPA.

Memang ribet, tapi lama-lama akan biasa, kok. Lakukan saja dengan semangat #UntukmuBumiku.

Terkait sampah kertas. Sebenarnya kertas itu kan bisa didaur ulang. Jika dikirim ke TPA dalam kondisi tidak terpilah. Atau sudah terpilah tapi di TPA dicampur lagi. Ya, itu sampah kertas akan rusak dan tidak bisa didaur ulang jadinya. Sayang pohon kan kalau gitu?

Cara memilah sampah

Belum Terlambat, Pemuda Bisa Jaga Hutan Indonesia

Kalau mengacu pada data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Luas hutan Indonesia pada tahun 2021 itu sebesar 95,6 juta hektare (Ha). Setara dengan 50-51% luas daratan Indonesia.

Tapi ini luas hutan keseluruhan. Bukan hanya luas hutan alam yang belum rusak. Tapi ya apapun itu, semoga luas hutan ini tidak berkurang lagi. Apalagi hutan alamnya. Baik karena penebangan liar maupun alih fungsi hutan.

Oleh karena itu, daripada terus mengeluh. Sekarang waktunya bagi semua pihak untuk ikut ambil bagian dalam upaya pelestarian hutan. Terutama bagi kamu, pemuda Indonesia.

Menjaga hutan bisa kamu lakukan dari rumah. Bisa dengan menghemat kertas, menghindari penggunaan tisu dan kemasan kertas, donasi pohon, memilah dan mengolah sampah, serta mengikuti isu-isu terbaru tentang hutan.

Mungkin tidak akan berdampak banyak. Tapi jika hal-hal sederhana ini dilakukan secara konsisten secara bersama-sama. Maka lama-lama akan memberikan dampak yang besar juga.

Belum terlambat untuk memulai. Ayo! Sama-sama peduli dan jaga hutan. Jika kita menjaga hutan, maka hutan akan menjaga kita.

Sumber referensi:

  • https://wri-indonesia.org/id/blog/kerusakan-hutan-hujan-primer-meningkat-sebesar-12-dari-tahun-2019-hingga-tahun-2020
  • https://www.walhiriau.or.id/2011/11/16/upaya-pemulihan-hutan-indonesia-dari-praktek-kelola-yang-amburadul/?amp=1
  • Ebook ‘Status Hutan dan Kehutanan Indonesia 2020’ dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.