Mimpi-Mimpi yang Memintaku Kembali ke Depok

Mimpi-Mimpi yang Memintaku Kembali ke Depok

Mimpi-Mimpi yang Memintaku Kembali ke Depok – Sejak meninggalkan Depok pertengahan 2020 silam. Saya beberapa kali didatangi mimpi yang sama. Saya kembali ke Depok. Bekerja di tempat yang sama. Bertemu dengan orang-orang yang sama-sama.

Anehnya, saya begitu menyukainya. Dalam setiap mimpi, saya selalu merasa bahagia. Padahal saya pernah ada di titik benar-benar ingin meninggalkan Depok segera.

Jika hanya terjadi sekali atau dua kali. Saya mungkin bisa mengabaikannya. Tapi ini, sudah teramat sering. Meski tak sampai puluhan kali. Anehnya lagi, setiap mimpi selalu memberikan kesan kuat.

Saya seperti selalu diminta kembali. Ada apa ini? Apakah saya memang perlu kembali ke Depok? Atau kah saya sebenarnya memang ingin kembali ke sana?

Depok, Kota Kenangan

Tinggal di Depok selama kurun waktu 5 tahun, 2015-2020. Mempertemukan saya dengan banyak wajah. Apalagi saya bekerja sebagai guru. Setiap tahun selalu ada wajah-wajah baru yang memberikan cerita baru.

Makanya saya menyebut Depok sebagai kota kenangan. Setiap kisah yang saya alami di sana tak akan saya lupakan. Lebih tepatnya, saya tak mampu melupakannya.

Jalanan Depok yang macet. Bakso-bakso yang saya cicipi. Jajanan yang kugemari. Cilok, cireng, cilor, somay, bala-bala, dan es kelapa muda.

Depok, Kota Pedidikan

Bukan hanya kota kenangan. Bagi saya, Depok juga kota pedidikan. Tempat saya menutut ilmu tentang kehidupan. Real life, begitu kata orang.

Di sini saya belajar tentang perbedaan. Meski tak terlalu banyak sebenarnya, karena masih satu Indonesia. Tapi tetap ada hal-hal kecil yang saya mesti menyesuaikan diri.

Contoh, setiap buka puasa bersama. Saya harus rela menahan lapar. Sebab orang-orang di Depok mengawali buka puasa dengan air minum dan yang manis-manis dulu. Terkadang juga ditambah gorengan.

Setelahnya mereka salat magrib, baru menikmati hidangan utama. Yakni makanan berat. Sementara di daerah asal saya, Madura. Kami selalu menyantap makanan utama dulu barulah salat.

Karena faktor tidak biasa, saya sering merasakan perut tetap melilit meski telah menyantap gorengan. Tapi makan duluan, tentu menimbulkan rasa tak nyaman.

Depok, Kota Perubahan

Depok jugalah yang telah merubah seorang Luluk Sobari. Banyak, amat banyak. Meski tak sepenuhnya.

Saya yang sangat introvert. Selalu kesulitan bersosialisasi di tempat baru. Kebingungan saat berada di tengah-tengah orang banyak. Merasa menciut di tengah-tengah keramaian. Tak begitu pandai menyampaikan perasaan dan pendapat.

Punya sejuta kekhawatiran dan ketakutan tingkat dewa. Suka panik berlebihan dan terkadang tak masuk akal. Grogi tampil di depan. Kurang percaya diri dan kurang yakin pada diri sendiri. Dan selalu melihat segala hal dari sisi buruk terlebih dahulu.

Tiba-tiba harus jadi guru. Bertemu banyak anak. Bertemu banyak rekan guru. Bertemu banyak orang tua.

Lambat laun, tanpa terasa. Saya juga mulai berubah. Mulai nyaman berbicara sambil menatap mata lawan bicara. Mulai pula berkurang rasa baper.

Meski semuanya terjadi secara perlahan. Bahkan bisa dibilang amat sangat lambat. Tapi setidaknya, saya sudah berani berkata. Luluk tahun 2015 sudah berbeda dengan Luluk tahun 2020.

Depok, Kota Persahabatan

Tak semua hubungan persahabatan berakhir baik. Jujur, saya sempat tidak akur dengan salah satu teman. Bahkan sampai kembali ke kampung halaman. Kami belum bertegur sapa.

Apa masalahnya? Hanya kesalahanpahaman kecil saja. Dan mungkin di antara kami berdua sama-sama lebih memilih menonjolkan sisi egois belaka.

Tentu, masih ada ingin untuk meminta maaf. Jika saya sempat bertandang ke Depok lagi. Saya akan menemuinya untuk menyapanya secara langsung. Meski mungkin hubungan kami tak bisa kembali seperti dulu saat pertama kali bertemu.

Tapi itu hanya satu hubungan dari sekian hubungan yang lain. Ada banyak persahabatan yang jalinannya masih akrab sampai sekarang. Meski sudah terpisah jarak yang cukup jauh.

Dari beberapa teman karib. Kepada mereka saya sering berkunjung dan menginap. Numpang makan, tidur, dan cuci baju. Mereka sudah hapal betul kalau saya suka merampok mie istan mereka.  

Baca Juga: Realita Hidup di Desa

Mimpi-Mimpi yang Memintaku Kembali ke Depok

Saya akui. Menjelang setahun kembalinya saya ke kampung halaman. Saya sering di dera rasa rindu. Saya begitu ingin kembali ke sana.

Suasana kotanya, orang-orangnya, makanannya, semua saya rindukan denga teramat sangat. Seperti rindu seorang kekasih pada pujaan hati yang lama tak dijumpainya.

Setahun belakang. Saya juga kerap mengalami mimpi kembali ke Depok. Saya ingat betul mimpi yang meggambarkan kalau saya kembali bekerja di SMP the Indonesia Natural School. Di susul mimpi-mimpi yang lain tentang Depok.

Lalu beberapa hari terakhir. Saya bermimpi bertemu dengan dua orang wali murid. Saya juga kembali bekerja di Sekolah Alam Depok. Tempat kerja saya yang pertama.

Rindu dan mimpi. Saling terikat bukan? Lalu apa kiranya makna dari rindu dan mimpi yang saling bertaut ini?

Apakah saya ingin kembali ke Depok? Atau saya yang dirindukan oleh Depok? Lantas saya diminta kembali ke sana?

Baiklah, mari jujur saja. Tak ada yang lebih baik ketimbang jujur pada diri sendiri bukan? Tahun 2015, saya berangkat ke Depok dengan sejuta harapan. Lalu pulang ke Madura tahun 2020 dengan sejuta keputusasaan. Tak ada yag tahu soal ini.

Saya selalu bilang kepada siapapun, saya pulang kampung karena ingin dekat dengan orang tua. Ingin fokus menulis dan berkebun saja. Sebenarnyalah ini cuma alasan penyerta yang saya jadikan alasan utama.

Tapi bagi beberapa orang yag mengetahui apa yang saya alami. Mungkin sudah bisa menebak alasan terbesar kepulangan saya. Bagi kalian yang saya maksud, mohon simpankan rahasia itu sampai saya berhasil menyelesaikan dengan baik.

Terombang-Ambing di Samudera Lepas

Ibarat kata, saya sebenarnya terpaksa pulang. Meski cepat atau lambat ya saya juga akan tetap kembali ke Madura. Cuma, harusnya mungkin bukan di tahun 2020.

Pada saat itu hanya ada satu kapal terakhir yang akan berlabuh dari Depok ke Madura. Jika saya tidak ikut berlayar dengan kapal tersebut. Terlambatlah sudah.

Begitu saya pikir. Maka, meski belum pandai berenang, saya putuskan untuk pulang. Sampai akhirnya, kapal yang saya tumpangi karam. Dan saya terombang-ambing di Samudera lepas. Samudera ketakutan.

Sekuat tenaga saya mencoba bertahan. Dihantam ombak, terbawa ombak. Entah bagaimana lagi harus bernapas. Saya bahkan sempat menyerah dan memilih untuk tenggelam saja.

Janji yang Belum Tuntas

Suatu pagi saya terbangun. Di antara helaan napas. Saya sadar, masih ada sisa-sisa harapan yang memintaku untuk bertahan. Sesulit apapun jalan hidup yang sedang saya tempuh.

Lihat, mentari pagi masih bersinar Luk. Masih ada harapan. Perbaiki apa yang bisa diperbaiki. Tuntaskan janjimu pada diri sediri.

Janji apa itu? Setidaknya selama di Depok. Saya harus bisa menerbitkan satu buku solo. Barulah saya boleh kembali ke kampung halaman.

Namun, kenyataannya. Janji itu belum juga rampung meski saya sudah kembali ke kampung halaman. Mungkin itu sebabnya kenapa mimpi tentang Depok selalu datang berulang kali. Seperti sebuah pengingat.

Spread the love

3 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.