berbahasa indonesia

Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira, Seperti Apa?

Berbahasa Indonesia – Pada 12 Juli lalu, saya pergi ke pameran buku yang diadakan oleh BBW (Big Bad Wolf) di Surabaya. Saya yang awalnya berniat untuk berkunjung saja, akhirnya berubah pikiran ketika melihat sebuah buku berjudul “Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira”.

Selama ini saya sudah biasa mendengar atau membaca slogan ‘Gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar’. Namun berbahasa Indonesia dengan logis dan gembira, belum pernah saya mendengar atau membacanya.

Karena judulnya yang menimbulkan rasa penasaran, saya akhirnya memutuskan untuk membeli buku tersebut.

Buku Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira

Buku ini ditulis oleh Iqbal Aji Daryono, selanjutnya saya akan menyebut beliau dengan sebutan Mas Iqbal. Supaya kesannya lebih akrab meski saya belum mengenal Mas Iqbal secara langsung. Semoga suatu hari nanti saya bisa mengikuti kelas menulis online yang Mas Iqbal adakan.

Seperti yang Mas Iqbal sampaikan, buku ini bukanlah sebuah buku pelajaran. Tidak ada rumus ataupun petunjuk tentang cara membuat kalimat yang logis itu seperti apa.

Sebagian besar isi tulisan banyak membahas tentang ekspresi-ekspresi berbahasa yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pembaca nantinya akan paham dengan sendirinya, bagaimana sih berbahasa yang logis itu? Dan kenapa dalam berbahasa harus berlogika?

Daya Tarik Buku

Saya suka buku non fiksi yang gaya bahasanya santai, menggunakan bahasa sehari-hari, serta isinya mudah dipahami. Buku non fiksi seperti ini biasanya punya daya tarik tersendiri untuk dibaca sampai tuntas.

Dan menurut pandangan saya, buku karya Mas Iqbal ini masuk dalam kategori tersebut. Saya sendiri menghatamkannya hanya dalam waktu 2 hari saja.

Daya tarik lainnya, buku ini sarat dengan pemikiran Mas Iqbal terkait kebahasaan. Pemikiran tersebut sedikit banyak juga mempengaruhi cara pandang saya terhadap bahasa Indonesia dan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Bahwa bahasa bukan sekedar alat komunikasi. Dan KBBI tidak bisa menjadi penentu sebuah kata salah atau benar.

Baca juga: Review Buku Filosofi Teras

Membaca Buku Seperti Naik Roller Coaster

Mungkin perumpaan yang saya pakai terlalu berlebihan. Saya cuma tidak menemukan kalimat lain yang lebih pas.

Ketika membaca buku ‘Berbahasa Indonesia dengan Logis da Gembira’ ini, perasaan saya dibuat tidak stabil. Saya merasa tertantang, senang, lega, sekaligus takut. Macam perasaan orang yang naik roller coaster.

Kalau ada perumpamaan yang lebih tepat tolong beritahu saya lewat kolom komentar di blog ini. Sebab saya sendiri sebenarnya belum pernah naik roller coaster hehehe.

Pertama-tama saya merasa wawasan saya tentang kebahasaan bertambah. Selain berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, saya juga perlu berbahasa Indonesia dengan logis, yang masuk akal, yang memenuhi kebutuhan nalar.

Kemudian saya optimistis untuk terus menulis meski saya tak banyak mengetahui berbagai diksi yang indah. Sebab fungsi utama bahasa adalah alat komunikasi. Jadi selama tulisan saya bisa diterima oleh pembaca, itu sudah cukup.

Saya juga tak perlu terlalu memusingkan antara kata baku dan tidak baku. Pada beberapa kondisi yang sesuai, menggunakan kata tidak baku sah-sah saja jika pertimbangannya untuk memberikan kemudahan pada pembaca dalam memahami isi tulisan.

Setelah selesai membaca, saya jadi punya kekhawatiran tingkat tinggi. Setiap hendak menulis, di pikiran saya terbersit tanya “Kalimat yang saya buat sudah logis belum, ya?”. Dan itu cukup menghambat kelancaran dalam menulis.

Membuat kalimat yang logis tentu butuh latihan, butuh belajar lagi. Bahkan bisa jadi, saya tidak akan bisa benar-benar membuat kalimat yang logis selamanya karena berbagai pertimbangan.

Tapi ya kembali lagi, yang terpenting tulisan saya tidak menimbulkan kesalahpamahan.

Kekhawatiran lain, saya takut untuk membuat karya berupa buku. Kata Mas Iqbal, tak semua buku mencerdaskan. Duh, bisa tidak nih saya membuat buku yang mencerdaskan? Jangankan buku, bagaimana kalau tulisan saya di blog ini juga tak mencerdaskan sama sekali?

Ya, tak apalah, minimal bermanfaat untuk diri sendiri dulu hehehe.

Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan iPusnas

Berbahasa Indonesia yang Logis

Seperti apa berbahasa Indoensia yang logis? Tentu saya tak bisa memberikan penjelasan sebaik penjelasan Mas Iqbal. Sederhananya mungkin bagaimana menggunakan bahasa yang bisa diterima oleh logika atau yang memenuhi kebutuhan nalar.

Saya akan memberikan satu contoh. Semoga bisa memberikan sedikit gambaran. Kita mungkin sering mendengar MC mengucapkan kalimat “Waktu dan tempat kami persilahkan”. Kalimat ini kurang bisa diterima oleh logika.

Pertama, kata dipersilahkan kurang tepat. Yang tepat adalah disilahkan dan bentuk bakunya adalah disilakan. Kedua, waktu dan tempat juga tidak bisa disandingkan dengan kata tersebut. Sehingga alternatif kalimat yang logis adalah “Waktu dan tempat kami serahkan”.

Tentu tak sesempit ini, ya. Bahasa yang logis tidak hanya berkutat soal imbuhan saja. Namun lebih luas lagi. Karena itu saya menyarankan siapapun yang bergelut di dunia kepenulisan untuk membaca buku ini. Agar bisa memahami sendiri betapa menyenangkannya berbahasa dengan logis.

Gagasan Seorang Mas Iqbal

Bahasa itu sifatnya arbitrer atau semau-maunya. Karena itu perlu adanya kesepakatan bersama dalam sebuah masyarakat untuk mencapai komunikasi efektif. Sepanjang sebuah kata hidup dan diterima di masyarakat, maka penggunaannya tak bisa disalahkan.

Maka menurut pandangan Mas Iqbal, KBBI tak bisa jadi penentu sebuah kata itu benar atau salah. Namun lebih kepada sebagai acuan untuk menentukan kata baku dan tidak baku.

Itu hanya satu dari sekian banyak pemikiran Mas Iqbal tentang kebahasaan yang tertuang dalam buku ini. Masih ada banyak gagasan lainnya yang asyik untuk kita simak.

Pemikiran Mas Iqbal bukanlah kebenaran mutlak, siapapun boleh setuju atau tidak setuju. Mas Iqbal bahkan membuka ruang diskusi dan siap menerima kritikan.

Saya pribadi banyak setujunya. Karena setuju itu lebih mudah ketimbang tidak setuju. Kalau tidak setuju, maka saya harus mengutarakan argumen tentang ketidaksetujuan saya hehehe.

Namun tak sepenuhnya begitu, kok. Saya sedikit bercanda saja. Saya hanya merasa, melalui gagasan Mas Iqbal, aktivitas menulis jadi lebih mudah dan menggembirakan.

Spread the love

3 comments

  1. Aiiih, jadi penasaran sama bukunya 😍
    Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu memang butuh usaha ya? Tapi kan memang harus karena ini adalah bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Apalagi sebagai penulis, wajib tahu supaya bisa memberikan informasi pada pembaca dengan maksimal. Tq sharingnya, Mbak💕

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.