Di awal bulan Agustus lalu, saat matahari pagi mulai menghangatkan udara, saya melangkah keluar dari kontrakan menuju sebuah raised bed (petak tanam) kecil di depan pagar. Luas raised bed itu memang tak seberapa, tetapi ia menjadi rumah bagi beberapa tanaman yang saya budidayakan. Di antaranya ada tomat, buncis, juga cabai sebagai bintang utamanya.
Agustus adalah bulan yang saya tunggu-tunggu. Sebab, berdasarkan hitungan masa tanam, di bulan ini tanaman cabai saya sudah berusia sekitar tiga bulan sejak pindah tanam.
Di usia tersebut, tanaman cabai biasanya sudah mulai menunjukkan perkembangannya. Tingginya bisa melebihi lutut orang dewasa, cabangnya semakin rimbun, dan di beberapa ketiak daun mulai bermunculan bakal bunga.
Di depan raised bed, saya berhenti sejenak. Mata saya bergantian melihat semua tanaman cabai yang ada di sana. Hati rasanya senang, tetapi di sisi lain ada alarm di kepala yang langsung berbunyi:
“Senang boleh, Luk. Tapi jangan lengah, ya!”
Cabai bukan tanaman yang benar-benar mudah dirawat. Ia cukup sensitif terhadap kondisi lingkungan, termasuk cuaca dan ketersediaan air. Kalau kondisi cuaca atau ketersediaan air kurang mendukung, tanaman cabai bisa stres. Bunganya bisa rontok, buah yang dihasilkan pun bisa lebih sedikit.
Tak hanya itu, tanaman cabai juga mudah terserang hama dan penyakit, baik di musim kemarau maupun musin penghujan. Kebutuhan nutrisinya juga perlu diperhatikan supaya tanaman cabai bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik.
Masalahnya, tanaman cabai yang sudah mulai dewasa dan memasuki masa berbunga dan berbuah pun tetap tidak lepas dari berbagai kendala tersebut. Itulah kenapa, meski pertumbuhan tanaman cabai saya terlihat cukup baik, saya tetap harus waspada.
Dan benar saja.
Di antara daun-daun cabai yang tampak hijau dan rimbun, saya menemukan beberapa daun yang mulai menguning, ada yang sedikit keriting, ada pula yang muncul bercak kecoklatan di bagian tepinya.

Sesuai pengalaman saya selama bertahun-tahun di kebun, itu semua adalah tanda-tanda kecil yang tidak boleh diabaikan.
Daun yang menguning bisa menjadi pertanda tanaman sedang mengalami gangguan, misalnya kekurangan unsur hara. Daun yang keriting juga bisa menjadi tanda adanya serangan hama, termasuk thrips. Sementara bercak kecoklatan pada daun bisa menjadi tanda adanya penyakit, termasuk yang disebabkan oleh bakteri atau jamur.
Kalau tanda-tanda seperti itu dibiarkan dan semakin meluas, dampaknya bukan hanya pertumbuhan cabai yang terhambat atau hasil panen yang menurun. Tanaman cabai pada akhirnya bahkan bisa mati.
Pekebun, Kerap Mengambil Keputusan Lewat Mata
Belakangan ini saya mulai menyadari satu hal. Sebagian besar keputusan yang saya ambil di kebun ternyata diawali dari melihat dan mengamati.
Saat hendak menyiram atau memupuk tanaman di pagi hari, saya punya kebiasaan berdiri beberapa menit di depan tanaman. Mata saya akan menyapu semua bagian tanaman satu per satu, mulai dari batang, cabang, sampai daun-daunnya.
Kalau cabang dan daun mulai terlihat sangat rimbun, biasanya saya akan mempertimbangkan untuk melakukan pemangkasan. Tapi memangkas tanaman juga tidak bisa asal. Saya harus benar-benar memperhatikan daun dan cabang mana yang sebaiknya dipotong dan mana yang sebaiknya dipertahankan.
Tidak berhenti di situ, saya juga memperhatikan tanda-tanda kecil yang ditunjukkan oleh daun.
Ada daun yang menguning kah? Ada yang keriting kah? Ada yang bolong kah? Ada yang menggulung kah? Ada bercak kecil kecoklatan di bagian tepinya kah?
Tanda-tanda seperti itu sering kali menjadi “bahasa” yang digunakan tanaman untuk memberi tahu kalau ia sedang tidak baik-baik saja.
Penyebabnya macam-macam. Bisa karena kekurangan unsur hara, tanaman sedang stres, atau ada hama maupun penyakit yang mulai menyerang.
Kalau mata saya peka melihat semua tanda yang ditunjukkan tanaman, terutama lewat daun, saya biasanya punya kesempatan untuk bertindak lebih awal sebelum gangguan pada tanaman semakin parah dan meluas.

Mata saya juga sering kali membantu saya mengenali tanaman-tanaman yang tumbuh tanpa sengaja.
Misalnya saja, di raised bed saya saat ini tumbuh satu tanaman yang tidak saya tanam. Kalau saya ingat-ingat, sepertinya ia tumbuh dari sampah organik pasar yang dulu saya kubur di raised bed sebelum mulai menanam.
Saat pertama kali tumbuh, saya hampir seratus persen yakin kalau itu tanaman buncis. Bentuk dan susunan daunnya tidak asing bagi mata saya. Terdiri dari tiga helai dalam satu tangkai, ujungnya lancip, dan permukaannya sedikit berbulu.
Karena itu, saya memutuskan untuk tidak mencabutnya dan membiarkannya tumbuh.
Ternyata keyakinan saya terbukti. Betul, tanaman itu adalah buncis. Dan karena saya mempertahankannya, sekarang buncis itu sudah besar dan mulai berbunga.
Kejadian seperti ini bukan pertama kalinya. Saya juga pernah kedatangan ubi jalar yang tumbuh sendiri dari sampah organik dapur yang saya kubur di raised bed.

Ya, di kebun memang tangan saya yang banyak bekerja. Mulai dari menanam, menyiram, memupuk, sampai memangkas tanaman.
Tapi sebelum tangan bekerja, mata saya-lah yang rasanya hampir selalu bekerja lebih dulu.
Saya Rajin Merawat Tanaman, Tapi Abai Merawat Mata
Baik, mari kembali ke pagi hari di awal bulan Agustus.
Selepas mengamati dan merawat tanaman cabai, juga tanaman-tanaman lainnya di raised bed, saya kembali ke dalam kontrakan untuk lanjut mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci pakaian, menyapu lantai, memasak, sampai membersihkan diri alias mandi.
Semuanya saya kerjakan satu per satu secara berurutan, dan baru selesai sekitar pukul dua belas siang. Selepas itu ngapain?
Seperti biasa, kalau pagi hari adalah waktunya saya berkebun sekaligus menyelesaikan pekerjaan rumah, maka siang hari adalah waktunya saya berada di depan laptop.
Karena itu, selepas mandi, saya langsung duduk di depan meja kerja mungil saya. Meja yang rangkanya terbuat dari kayu, sementara bagian atasnya dari bambu.
Perlahan saya membuka laptop yang terletak di meja mungil tersebut, lalu menekan tombol power. Tak lama, layar laptop menyala. Mata saya pun langsung tertuju ke sana, sementara tangan mulai bergerak menekan tombol-tombol keyboard, sesekali berpindah ke touchpad.
Agenda saya siang itu adalah mengedit beberapa konten untuk media sosial saya. Setelahnya, saya berencana mencari referensi tentang cara membuat pestisida organik yang ampuh untuk menangani berbagai serangan hama dan penyakit pada tanaman cabai.
Saya terus bekerja di depan laptop. Saking asyiknya, saya sampai tidak sadar kalau waktu berjalan begitu cepat. Tahu-tahu hari sudah menjelang magrib.
Saya menoleh ke arah jendela kamar. Langit di luar ternyata sudah mulai gelap. Saya pun memutuskan untuk meninggalkan laptop sebentar untuk istirahat, salat, dan makan.
Sekitar 10–15 menit kemudian, saya kembali duduk di depan laptop untuk melanjutkan pencarian referensi soal pestisida organik yang tadi belum sempat saya kerjakan.
Tapi, naasnya, saya tidak bisa lanjut bekerja.
Mata saya terasa perih dan ada sedikit sensasi panas juga. Sebenarnya, sejak siang mata saya sudah terasa tidak nyaman. Bahkan beberapa kali saya harus menyipitkan mata karena layar terasa makin sulit ditatap.
Akhirnya saya menyerah dan memilih tiduran untuk memejamkan mata karena mata benar-benar sudah terasa lelah.
Kalau boleh jujur, keluhan seperti ini sebenarnya bukan baru terjadi hari itu saja. Sudah sejak berbulan-bulan sebelumnya saya mengalami hal yang sama. Mata cepat lelah ketika menatap layar, terasa perih, dan sesekali muncul sensasi panas seperti terbakar yang bikin tidak nyaman.
Dan setiap kali mengalami keluhan tersebut, sebenarnya dalam hati saya berkata, “ini kayaknya wes gak wajar sih.” Cuma ya begitu. Di sisi lain saya juga berkata, “ah, masih capek biasa aja deh kayaknya.”
Kalau dipikir-pikir, ironis juga ya cara saya memperlakukan mata selama ini. Kok bisa?
Pertama, di kebun, saya sangat peka terhadap perubahan-perubahan kecil.
Daun yang mulai menguning sedikit saja langsung saya perhatikan. Daun yang keriting segera membuat saya mencari tahu penyebabnya.
Saya bahkan bisa menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk mengamati satu tanaman, memastikan apakah ada hama, penyakit, atau tanda-tanda kekurangan nutrisi.
Tetapi ketika mata saya sendiri mulai memberikan tanda-tanda kecil bahwa ia sedang tidak baik-baik saja, saya justru memilih mengabaikannya meski tahu apa artinya.
Kedua, saya sangat mengandalkan mata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berkebun.
Seperti yang saya bilang, banyak keputusan di kebun yang saya ambil berdasarkan apa yang saya lihat. Mata membantu saya membaca kondisi kebun. Dari mata, saya tahu kapan sebuah tanaman membutuhkan perhatian lebih.
Tetapi lucunya, ketika mata saya yang berharga mulai memberikan tanda bahwa ia juga membutuhkan perhatian, saya malah tidak merawatnya dengan baik.
Apa yang Sebenarnya Mata Saya Alami?
Sekarang, mari tinggalkan dulu soal berkebun. Saya mau lanjut cerita tentang mata saya.
Seingat saya, sejak awal tahun 2026, setiap bekerja di depan laptop, ternyata ada cukup banyak hal yang mata saya alami.
Mata saya sering terasa panas. Kalau masih dipaksa bekerja, rasa panasnya bisa semakin kuat. Kadang bahkan muncul sensasi seperti bola mata saya ditekan atau ditusuk dari belakang.
Mata juga sering terasa perih. Saking tidak nyamannya, saya beberapa kali harus berhenti sebentar, menutup mata satu atau dua menit, baru kemudian lanjut bekerja lagi.
Lalu ada satu hal yang cukup aneh. Mata saya sering tiba-tiba berair. Bukan karena sedih, bukan juga karena sedang terharu,
Dan yang terakhir, ini yang paling mengganggu saya, pandangan saya mulai terasa berbayang ketika membaca tulisan di layar laptop atau HP.
Kalau semua keluhan itu saya kumpulkan, ternyata apa yang mata saya alami itu mirip dengan Gejala Mata SePeLe. Setahu saya, istilah ini bukan istilah medis. Ini istilah populer untuk menggambarkan beberapa keluhan mata yang sering kali justru dianggap sepele oleh banyak orang. Ya, termasuk saya buktinya.
Kata SePeLe sendiri merupakan singkatan dari Sepet, Perih, dan Lelah. Kalau dijabarkan secara sederhana, sepet bisa terasa seperti mata kaku, gatal, tidak segar, atau sekadar terasa tidak nyaman. Perih ya seperti yang saya rasakan tadi: perih, iritasi, bahkan bisa terasa seperti terbakar. Sementara lelah bisa berupa mata yang terasa berat, cepat lelah, sulit fokus, atau pandangan yang terasa kabur.
Kalau dicocokkan, beberapa di antaranya memang saya alami.
Cuma, bukan berarti setelah membaca atau mencocokkan gejala, saya bisa langsung menyimpulkan kondisi mata saya sendiri. Saya hanya sedang mencoba memahami apa yang terjadi pada mata.
Dan setidaknya, dengan saya tahu soal Gejala Mata SePeLe ini, saya jadi punya alasan untuk tidak lagi menganggap semua yang terjadi pada mata saya sekadar, “Ah, paling mata capek.”
Yap, buat saya, ini jadi pengingat agar saya lebih memperhatikan mata. Karena kalau sudah mulai muncul macam-macam gejala seperti yang saya ceritakan di atas, rasanya kurang tepat kalau semuanya masih saya sebut sepele.
Intinya mah #MataSePeLeJanganSepelein.
Gejala Mata SePeLe Jangan Disepelein!
Sekarang pertanyaan pentingnya adalah, kenapa sebaiknya gejala mata sepele jangan disepelein?
Jawabannya tidak sesederhana karena gejala itu bikin mata tidak nyaman, apalagi saat dibawa bekerja di depan laptop.
Kondisi ini tuh mirip seperti tanaman saya, kadang perubahan kecil pada daun justru menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Kalau dibiarkan, bisa jadi masalah besar di kemudian hari.
Begitu juga dengan Gejala Mata SePeLe.
Gejala seperti mata sepet, perih, dan lelah ternyata bisa berkaitan dengan mata kering. Dengan kata lain, Gejala Mata SePeLe bisa menjadi tanda-tanda awal mata kering.
Ini bukan kesimpulan saya pribadi. Saya mengutip pernyataan Dokter Spesialis Mata dari JEC Eye Hospitals and Clinics, dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, melalui kanal Kompasiana.com.
Dr. Eka menjelaskan bahwa pasien dengan keluhan mata kering cukup banyak, tetapi banyak di antaranya baru datang ketika kondisinya sudah cukup parah. Banyak pasien bahkan tidak sadar bahwa sebenarnya mereka mengalami mata kering. Padahal, gejala awal seperti mata sepet, perih, dan lelah bisa saja sudah muncul sejak lama. Kalau ditangani sejak awal, kondisi ini bisa dicegah agar tidak berkembang menjadi lebih berat.
Jadi kalau mau #BebasMataKering, ya sebaiknya ditangani sejak awal, selagi gejalanya masih terasa ringan.
Nah, sekarang pertanyaan selanjutnya, emang mata kering itu apa? Apa penyebabnya? Apa gejalanya? Apa akibatnya kalau dibiarkan berlarut-larut? Dan bagaimana cara mengatasinya?
Mata Kering: Penyebab dan Gejala
Sebelum lanjut membahas soal mata kering, saya mau menyampaikan sedikit. Semua pembahasan tentang mata kering dalam tulisan ini, termasuk cara mengatasinya, saya rangkum dari beberapa sumber yang saya gunakan sebagai referensi. Link referensinya saya letakkan di bagian paling akhir tulisan ini. Silakan kalau mau dicek.
Oke, lanjut bahas soal mata kering. Apa itu mata kering? Apa penyebabnya? Apa gejalanya? Mari kita bahas satu per satu.
Apa Itu Mata Kering?
Dalam istilah medis, mata kering dikenal sebagai dry eye syndrome atau keratoconjunctivitis sicca. Sederhananya, mata kering adalah kondisi ketika permukaan mata tidak mendapatkan pelumasan yang cukup dari air mata.
Air mata ternyata bukan sekadar cairan yang keluar saat menangis. Di dalamnya terdapat air, garam, minyak, protein, dan musin yang bersama-sama membentuk lapisan air mata atau yang disebut tear film. Lapisan inilah yang membantu menjaga permukaan mata tetap lembap dan halus.
Air mata juga punya peran penting untuk melindungi mata. Ia membantu membersihkan permukaan mata dari debu, kotoran, benda asing, maupun kuman yang bisa menyebabkan infeksi.
Dalam kondisi normal, setiap kali berkedip, air mata akan tersebar di permukaan mata dan membentuk lapisan pelindung tersebut. Proses ini melibatkan beberapa bagian mata, termasuk kelenjar lakrimal yang menghasilkan air mata, kelenjar meibom yang menghasilkan minyak, serta sel goblet yang menghasilkan musin.
Jadi, ternyata mata tidak hanya membutuhkan air, tetapi juga membutuhkan komposisi lapisan air mata yang seimbang agar permukaannya tetap terlindungi dan terlumasi dengan baik.
Pada mata kering, keseimbangan tersebut terganggu. Lapisan air mata tidak dapat melumasi permukaan mata dengan baik, sehingga permukaan mata menjadi lebih mudah mengalami iritasi dan gangguan.
Padahal, permukaan mata yang sehat penting bukan hanya untuk kenyamanan, tetapi juga untuk menjaga kornea tetap jernih sehingga penglihatan dapat berlangsung dengan baik.
Jadi kalau selama ini saya mengira air mata hanya berhubungan dengan menangis, ternyata fungsinya jauh lebih penting dari itu.
Mata saya ternyata memang membutuhkan air mata, bukan hanya ketika sedang sedih, tapi juga untuk sehari-hari.
1. Penyebab Mata Kering
Ternyata, mata kering bukan sekadar soal kurang air mata. Ada beberapa hal yang bisa membuat mata tidak mendapatkan pelumasan yang cukup.
Secara umum, ada dua mekanisme utama: produksi air mata yang berkurang dan air mata yang terlalu cepat menguap.
- Produksi Air Mata Berkurang
Mata membutuhkan air mata yang cukup untuk menjaga permukaannya tetap terlumasi. Ketika kelenjar air mata tidak memproduksi air mata dalam jumlah yang memadai, permukaan mata pun bisa menjadi lebih mudah kering.
Penurunan produksi air mata bisa berkaitan dengan usia, penyakit tertentu seperti diabetes, lupus, rheumatoid arthritis, sindrom Sjogren, gangguan hormon tiroid, maupun kekurangan vitamin A.
Beberapa obat juga dapat memengaruhi produksi air mata, misalnya antihistamin, dekongestan, antidepresan, obat hipertensi, obat tertentu untuk jerawat atau Parkinson, serta terapi pengganti hormon.
Selain itu, produksi air mata juga bisa terganggu akibat tindakan medis tertentu, seperti radioterapi atau operasi laser mata.
- Air Mata Terlalu Cepat Menguap
Air mata bukan hanya terdiri dari air. Ada juga lapisan minyak yang membantu mencegah air mata menguap terlalu cepat.
Kalau lapisan minyak ini tidak bekerja dengan baik, air mata bisa lebih cepat menguap. Akibatnya, permukaan mata menjadi lebih mudah kering meskipun produksi air mata sebenarnya tetap ada.
Hal ini bisa dipengaruhi oleh berbagai kondisi, seperti gangguan pada kelenjar meibom, alergi pada mata, gangguan kelopak mata, udara yang kering, angin, kipas, pendingin ruangan, maupun polusi.
Termasuk satu hal yang sangat dekat dengan keseharian saya: terlalu lama membaca atau bekerja di depan layar.
Ketika sedang fokus menatap layar, kita cenderung lebih jarang berkedip. Padahal, berkedip membantu menyebarkan lapisan air mata ke seluruh permukaan mata. Kalau dilakukan terus-menerus dalam waktu lama, air mata bisa lebih cepat menguap.
Penggunaan lensa kontak dalam waktu lama juga dapat meningkatkan risiko mata kering.
Jadi, ternyata penyebab mata kering cukup beragam. Bisa karena air mata yang diproduksi tidak cukup, bisa juga karena air mata yang sudah diproduksi justru terlalu cepat menguap. Bahkan, keduanya bisa terjadi bersamaan.
Dan dari sini saya mulai memahami satu hal: kebiasaan yang kelihatannya sederhana, seperti terlalu lama menatap layar dan lupa berkedip, ternyata bisa ikut memengaruhi kondisi mata.
2. Gejala Mata Kering
Setelah tahu penyebabnya, sekarang bagian yang paling dekat dengan pengalaman saya: sebenarnya mata kering itu terasa seperti apa?
Ternyata, gejalanya bisa berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang hanya merasakan mata tidak nyaman atau cepat lelah, tetapi ada juga yang mengalami keluhan yang lebih mengganggu.
Beberapa gejala yang umum terjadi antara lain mata terasa panas atau seperti terbakar, terasa kering, perih, gatal, atau seperti ada pasir dan sesuatu yang mengganjal di dalam mata.
Mata juga bisa menjadi merah dan lebih sensitif terhadap cahaya. Bahkan, meskipun namanya mata kering, mata justru bisa tiba-tiba berair. Ini terjadi sebagai respons terhadap iritasi pada permukaan mata.
Selain itu, penglihatan bisa terasa buram atau berbayang. Pada beberapa kondisi, pandangan yang buram bahkan bisa membaik setelah berkedip karena lapisan air mata kembali tersebar di permukaan mata.
Ada juga yang mengalami lendir di dalam atau sekitar mata, terutama setelah bangun tidur. Kelopak mata bisa terasa berat, mata cepat lelah, bahkan terkadang disertai kedutan.
Menariknya, keluhan-keluhan tersebut bisa terasa lebih mengganggu dalam kondisi tertentu. Misalnya ketika terlalu lama menatap layar komputer atau HP, membaca dalam waktu lama, atau berada di ruangan dengan udara yang kering.
Kalau saya perhatikan lagi, beberapa hal yang saya alami sejak awal tahun tadi ternyata memang masuk ke dalam daftar keluhan yang bisa muncul pada mata kering.
Mata panas, perih, berair, cepat lelah, sampai pandangan yang terasa berbayang.
Pantas saja saya sempat mengira mata saya cuma sedang capek.
Cara Mengatasi Mata Kering
Kalau sudah tahu penyebab dan gejalanya, lalu apa yang bisa dilakukan ketika mata mulai terasa kering?
Penanganan mata kering tentu perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Untuk keluhan yang masih ringan, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan di rumah untuk membantu menjaga mata tetap nyaman.
Salah satunya adalah lebih sering berkedip, terutama ketika sedang membaca atau bekerja di depan laptop dan HP. Saat fokus menatap layar, saya sendiri sering lupa berkedip. Padahal, berkedip membantu menyebarkan lapisan air mata ke permukaan mata.
Mata juga perlu diberi jeda. Kalau sudah terlalu lama menatap layar, berhenti sebentar, memejamkan mata, atau mengalihkan pandangan dari layar bisa membantu mata beristirahat.
Selain itu, sebaiknya hindari paparan angin dari kipas atau AC secara langsung, karena udara yang kering bisa membuat air mata lebih cepat menguap. Menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan cukup minum air juga penting.
Untuk menjaga kebersihan area mata, bisa dilakukan lid hygiene atau membersihkan kelopak mata secara rutin. Kompres hangat juga termasuk salah satu perawatan sederhana yang disebutkan oleh dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM dalam penjelasannya mengenai penanganan mata kering.
Selain perawatan tersebut, air mata buatan (artificial tears) juga dapat digunakan untuk membantu menjaga kelembapan permukaan mata. Salah satu produk yang bisa digunakan adalah #InstoDryEyes.
Jadi, ketika mata mulai terasa kering setelah terlalu lama bekerja di depan laptop, saya bisa memberi jeda pada mata, lebih rajin berkedip, dan menggunakan Insto Dry Eyes untuk membantu menjaga kelembapan mata.
Tapi tentu saja, perawatan mandiri bukan berarti saya bisa mengabaikan kondisi mata begitu saja.
Kalau keluhan mata kering terus-menerus dan tidak membaik, sebaiknya periksakan ke dokter mata. Terlebih jika keluhan disertai mata merah, iritasi, gatal, nyeri, mata terasa sangat lelah, perubahan pada kelopak mata, atau gangguan penglihatan.
Jadi, untuk keluhan yang masih ringan, saya bisa mulai dengan perawatan sederhana di rumah. Tapi kalau keluhannya menetap atau justru semakin mengganggu, sudah waktunya mata diperiksa.
Insto Dry Eyes: Saatnya Saya Mulai Merawat Mata

INSTO DRY EYES merupakan salah satu varian Insto yang digunakan untuk mengatasi gejala mata kering. Produk ini memberikan efek pelumas seperti air mata dan ditujukan untuk membantu mengatasi gejala kekeringan pada mata.
Insto Dry Eyes mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose 3,0 mg sebagai bahan aktif, serta Benzalkonium Chloride 0,1 mg. Berdasarkan informasi resmi produknya, kandungan tersebut bekerja memberikan efek pelumas seperti air mata.
Bagi saya, bagian terpentingnya justru bukan sekadar mengetahui ada produk untuk mata kering. Yang lebih penting adalah perubahan kebiasaan saya sendiri.
Dulu, ketika mata mulai memberikan tanda, saya memilih menganggapnya sebagai rasa capek biasa. Sekarang saya mulai belajar berhenti dan memperhatikannya.
Sebab ternyata, merawat mata bukan hanya soal membuat mata terasa nyaman hari ini. Ada banyak hal yang masih ingin saya lakukan dengan mata ini.
Bukan Hanya Mata, Ada Mimpi yang Ingin Saya Rawat
Kalau dipikir-pikir, mata saya ternyata punya peran yang jauh lebih besar dalam kehidupan sehari-hari daripada yang selama ini saya sadari.
Dengan mata inilah saya mengamati tanaman di kebun. Dengan mata ini pula saya membaca, menulis, bekerja di depan laptop, membuat konten, dan belajar banyak hal baru.
Dan di balik semua aktivitas itu, sebenarnya ada sesuatu yang sedang saya bangun. Ada kehidupan yang masih ingin saya jalani. Ada karya yang masih ingin saya buat. Dan ada mimpi yang masih ingin saya wujudkan.
Saya masih ingin melihat tanaman-tanaman yang saya tanam tumbuh dan berbuah. Masih ingin menulis. Masih ingin berkarya. Masih ingin melihat sejauh mana perjalanan yang sedang saya jalani ini akan membawa saya.
Karena itu, merawat mata ternyata bukan hanya soal mengatasi rasa perih atau lelah yang saya rasakan hari ini. Ada banyak hal yang masih ingin saya lihat, jalani, dan wujudkan.
Merawat Apa yang Ingin Terus Tumbuh
Selama ini saya belajar banyak hal dari berkebun. Salah satunya adalah jangan menunggu tanaman benar-benar rusak baru memberikan perhatian. Daun mulai berubah, saya amati.
Pertumbuhan terlihat tidak biasa, saya cari tahu. Ada tanda-tanda serangan hama atau penyakit, saya segera mencari cara untuk mengatasinya. Ternyata, prinsip yang sama juga perlu saya terapkan kepada diri sendiri.
Mata memberikan tanda, seharusnya saya perhatikan. Mata terasa tidak nyaman, seharusnya saya tidak buru-buru menganggapnya sepele.
Karena saya tidak hanya ingin merawat tanaman-tanaman yang sedang tumbuh di kebun kecil saya. Saya juga ingin merawat diri sendiri. Dan tentu saja, saya ingin merawat mimpi-mimpi yang masih ingin tumbuh.
Referensi untuk pembahasan tentang mata sepele:
- https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8268748/gejala-sepele-mata-kering-jangan-disepelekan-atasi-dengan-insto-dry-eyes
- https://www.kompasiana.com/kompasiananews/690decc5ed641566ca71c022/insto-ajak-masyarakat-indonesia-kenali-3-gejala-mata-kering-yang-sering-disepelekan-apa-saja#goog_rewarded
Referensi untuk pembahasan tentang mata kering:
- https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/mengenal-mata-kering
- https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8268748/gejala-sepele-mata-kering-jangan-disepelekan-atasi-dengan-insto-dry-eyes
- https://jec.co.id/id/article/sindrom-mata-kering
- https://www.alodokter.com/mata-kering
- https://www.klinikmatanusantara.com/id/tindakan-dan-biaya/mata-kering/
- https://primayahospital.com/umum/mata-kering/



