Di awal bulan Agustus, saat matahari pagi mulai menghangatkan udara, saya melangkah keluar dari kontrakan menuju sebuah raised bed (petak tanam) kecil di depan pagar. Raised bed itu luasnya tak seberapa, meski begitu ia merupakan rumah bagi beberapa tanaman yang saya tanam. Di antaranya ada tomat, buncis, juga cabai sebagai bintang utamanya.
Agustus adalah bulan yang saya tunggu-tunggu. Sebab, berdasarkan hitungan masa tanam, di bulan ini tanaman cabai saya sudah berusia sekitar tiga bulan sejak pindah tanam. Di usia ini, tanaman cabai biasanya sudah mulai terlihat perkembangannya. Tingginya bisa melebihi lutut orang dewasa, cabangnya semakin rimbun, dan di beberapa ketiak daun mulai bermunculan bakal bunga.
Di depan raised bed itu, saya berhenti sejenak. Mata saya bergantian melihat semua tanaman cabai yang ada di sana. Hati saya rasanya senang, tetapi di sisi lain, ada alarm di kepala yang langsung berbunyi, “senang boleh, Luk. Tapi jangan lengah, ya!”
Cabai bukanlah tanaman yang benar-benar mudah untuk dirawat. Ia cukup sensitif terhadap kondisi lingkungan, termasuk cuaca dan ketersediaan air. Kalau kondisi cuaca atau ketersediaan air kurang mendukung, tanaman cabai bisa stres. Bunganya bisa rontok, buah yang dihasilkan pun bisa lebih sedikit.
Selain itu, cabai juga gampang terserang hama maupun penyakit. Kebutuhan nutrisinya pun perlu diperhatikan dengan seksama agar cabai dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik.
Masalahnya, tanaman cabai yang sudah mulai dewasa dan memasuki masa berbunga dan berbuah pun tetap tidak lepas dari berbagai kendala dan gangguan tersebut. Itulah kenapa, meski tanaman cabai saya sudah menunjukkan pertumbuhan yang sebenarnya cukup baik, saya tetap harus waspada.
Dan benar saja. Di antara daun-daun cabai yang tampak hijau dan rimbun, saya menemukan beberapa daun yang mulai menguning, ada yang sedikit keriting, dan ada pula yang muncul bercak kecoklatan di bagian tepinya.
Sesuai pengalaman saya selama bertahun-tahun di kebun, itu semua adalah tanda-tanda kecil yang tidak boleh diabaikan.
Daun yang menguning bisa menjadi pertanda tanaman sedang mengalami gangguan, misalnya kekurangan unsur hara. Daun yang keriting juga bisa menjadi tanda adanya serangan hama, termasuk thrips. Sementara bercak kecoklatan pada daun bisa menjadi tanda adanya penyakit, termasuk yang disebabkan oleh bakteri atau jamur.
Kalau tanda-tanda seperti itu dibiarkan dan semakin meluas, dampaknya bukan hanya pertumbuhan cabai yang terhambat atau hasil panen yang menurun, tetapi tanaman cabai pada akhirnya bisa mati.
Pekebun, Kerap Mengambil Keputusan Lewat Mata
Belakangan ini saya mulai menyadari satu hal. Sebagian besar keputusan yang saya ambil di kebun ternyata diawali dari melihat dan mengamati.
Saat hendak menyiram atau memupuk tanaman di pagi hari, saya punya kebiasaan berdiri beberapa menit di depan tanaman. Mata saya akan menyapu semua bagian tanaman satu per satu, mulai dari batang, cabang, sampai daun-daunnya.
Kalau cabang dan daun mulai terlihat sangat rimbun, biasanya saya akan mempertimbangkan untuk segera melakukan pemangkasan. Tapi memangkas tanaman juga tidak bisa asal. Saya harus benar-benar memperhatikan daun dan cabang mana yang sebaiknya dipotong dan mana yang sebaiknya dipertahankan.
Tidak berhenti di situ, saya juga akan memperhatikan tanda-tanda kecil yang ditunjukkan oleh daun. Ada daun yang menguning kah? Ada yang keriting kah? Ada yang bolong kah? Ada yang menggulung kah? Ada bercak kecil kecoklatan kah di bagian tepinya?
Tanda-tanda seperti itu sering kali menjadi “bahasa” yang digunakan tanaman untuk memberi tahu kalau dia sedang tidak baik-baik saja. Penyebabnya ya macam-macam, seperti yang saya sebutkan di awal tulisan ini, bisa karena kekurangan unsur hara, tanaman sedang stres, bisa juga karena ada hama atau penyakit yang mulai menyerang.
Kalau mata saya peka melihat semua tanda yang ditunjukkan tanaman, terutama lewat daun, saya biasanya akan punya kesempatan untuk bertindak lebih awal sebelum gangguan pada tanaman semakin parah dan meluas.
Mata saya juga sering kali membantu saya mengenali tanaman-tanaman yang tumbuh tanpa sengaja.
Misalnya nih, di raised bed saya saat ini tumbuh satu tanaman yang tidak saya tanam. Kalau saya ingat-ingat, sepertinya dia tumbuh dari sampah organik pasar yang dulu saya kubur di raised bed sebelum mulai menanam.
Pas awal dia tumbuh, saya hampir 100% yakin kalau itu adalah tanaman buncis. Bentuk dan susunan daunnya tidak asing bagi mata saya, yakni terdiri dari tiga helai dalam satu tangkai, ujungnya lancip, dan permukaannya sedikit berbulu. Karena itu, saya memutuskan untuk tidak mencabutnya dan membiarkannya tumbuh.
Ternyata keyakinan saya terbukti, benar tanaman itu adalah buncis. Dan karena saya mempertahankannya, sekarang buncis itu sudah besar dan mulai berbunga.
Kejadian seperti ini bukan pertama kalinya. Saya juga pernah kedatangan ubi jalar yang tumbuh sendiri dari sampah dapur yang saya kubur di raised bed.
Ya, di kebun, memang tangan saya lah yang banyak bekerja. Mulai dari menanam, menyiram, memupuk, sampai memangkas tanaman. Tapi sebelum tangan bekerja, mata saya lah yang rasanya hampir selalu bekerja lebih dulu.
Saya Rajin Merawat Tanaman, Tapi Abai Merawat Mata
Baik, mari kembali ke pagi hari di awal bulan Agustus.
Selepas mengamati dan merawat tanaman cabai, juga tanaman-tanaman lainnya di raised bed, saya kembali ke dalam kontrakan untuk lanjut mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci pakaian, menyapu lantai, memasak, sampai membersihkan diri alias mandi.
Semuanya saya kerjakan satu per satu secara berurutan, dan baru selesai sekitar pukul dua belas siang. Selepas itu ngapain?
Seperti biasa, kalau pagi hari adalah waktunya saya berkebun sekaligus menyelesaikan pekerjaan rumah, maka siang hari adalah waktunya saya berada di depan laptop.
Karena itu, selepas mandi, saya langsung duduk di depan meja kerja mungil saya. Meja yang rangkanya terbuat dari kayu, sementara bagian atasnya dari bambu.
Perlahan saya membuka laptop yang terletak di meja mungil tersebut, dilanjut dengan menekan tombol power. Tak lama, layar laptop menyala, mata saya pun langsung tertuju ke sana, sementara tangan mulai bergerak menekan tombol-tombol keyboard, sesekali berpindah ke touchpad.
Agenda saya siang itu adalah mengedit beberapa konten untuk media sosial saya. Lalu setelahnya, saya berencana mencari referensi tentang cara membuat pestisida organik yang ampuh untuk menangani berbagai serangan hama dan penyakit pada tanaman cabai.
Saya terus bekerja di depan laptop. Saking asyiknya, saya sampai tidak sadar kalau waktu berjalan begitu cepat. Tahu-tahu hari sudah menjelang magrib.
Saya menoleh ke arah jendela kamar. Langit di luar ternyata sudah mulai gelap. Saya pun memutuskan untuk meninggalkan laptop sebentar untuk istirahat, salat, dan makan.
Sekitar 10-15 menit kemudian, saya kembali duduk di depan laptop untuk lanjut mencari referensi soal pestisida organik untuk tanaman cabai yang tadi belum sempat saya kerjakan.
Tapi naasnya, saya tidak bisa lanjut bekerja. Mata saya terasa perih dan ada sedikit sensasi panas juga saat menatap layar laptop. Dan sebenarnya, sejak siang hari mata saya sudah terasa tidak nyaman. Bahkan beberapa kali saya harus menyipitkan mata karena layar terasa makin sulit ditatap.
Akhirnya saya menyerah dan memilih tiduran untuk memejamkan mata karena mata benar-benar sudah terasa lelah.
Kalau boleh jujur, keluhan seperti ini sebenarnya bukan baru terjadi hari itu saja. Sudah sejak berbulan-bulan sebelumnya saya mengalami hal yang sama. Mata cepat lelah ketika menatap layar, terasa perih, dan sesekali muncul sensasi panas seperti terbakar yang bikin tidak nyaman.
Dan setiap kali mengalami keluhan tersebut, sebenarnya dalam hati saya itu berkata, “Ini kayaknya wes gak wajar sih.” Cuma ya begitu, di sisi lain saya juga berkata, “Ah, masih capek biasa aja deh kayaknya.”
Kalau dipikir-pikir, ironis juga ya cara saya memperlakukan mata selama ini. Kok bisa?
Pertama, di kebun, saya sangat peka terhadap perubahan-perubahan kecil. Daun yang mulai menguning sedikit saja langsung saya perhatikan. Daun yang keriting segera membuat saya mencari tahu penyebabnya.
Saya bahkan bisa menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk mengamati satu tanaman, memastikan apakah ada hama, penyakit, atau tanda-tanda kekurangan nutrisi.
Tetapi ketika mata saya sendiri mulai memberikan tanda-tanda kecil bahwa ia sedang tidak baik-baik saja, saya justru memilih mengabaikannya meski tahu apa artinya.
Kedua, saya sangat mengandalkan mata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berkebun.
Seperti yang saya bilang, banyak keputusan di kebun yang saya ambil berdasarkan apa yang saya lihat. Mata membantu saya membaca kondisi kebun. Dari mata, saya tahu kapan sebuah tanaman membutuhkan perhatian lebih.
Tetapi lucunya, ketika mata saya yang berharga mulai memberikan tanda bahwa ia juga membutuhkan perhatian, saya malah pura-pura tidak melihatnya.
Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi pada Mata Saya?
Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin selama ini saya terlalu gampang menyimpulkan bahwa mata yang perih dan lelah setelah berjam-jam bekerja di depan laptop hanyalah tanda mata kecapekan. Padahal, saya sendiri sebenarnya sudah pernah mendengar istilah Gejala Mata SePeLe.
SePeLe merupakan singkatan dari Sepet, Perih, dan Lelah. Tiga keluhan yang terdengar sederhana, bahkan mungkin sering kita alami dalam keseharian. Karena terasa ringan, kita pun sering menganggapnya bukan sesuatu yang perlu diperhatikan.
Saya pun begitu.
Mata mulai terasa perih, saya bilang capek. Mata terasa panas, saya turunkan kecerahan layar. Mata mulai lelah, saya pejamkan sebentar. Setelah terasa agak enakan, ya sudah, saya lanjut lagi.
Padahal, gejala-gejala tersebut tidak selalu sesederhana seperti yang saya kira. Gejala-gejala tersebut salah satunya bisa berkaitan dengan mata kering.
Gejala Mata SePeLe Bisa Berkaitan dengan Mata Kering
Sebelum ini, kalau mendengar istilah mata kering, yang terbayang di kepala saya adalah mata yang benar-benar terasa kering seperti tidak ada airnya. Ternyata tidak sesederhana itu.
Mata kering berkaitan dengan kondisi ketika air mata tidak mampu memberikan pelumasan yang cukup pada permukaan mata. Akibatnya, mata bisa terasa tidak nyaman. Gejalanya dapat berupa mata sepet, perih, terasa seperti terbakar, cepat lelah, bahkan pada kondisi tertentu bisa terasa seperti ada benda asing atau penglihatan menjadi buram.
Nah, kalau melihat kembali apa yang saya alami selama berbulan-bulan, beberapa keluhan tersebut ternyata memang terasa cukup familiar. Apalagi saya cukup sering menghabiskan waktu di depan laptop.
Ketika sedang bekerja, saya bisa duduk cukup lama di depan layar. Belum lagi membaca, menulis, mengedit konten, atau mencari berbagai referensi yang semuanya membutuhkan mata untuk terus bekerja.
Saat kita terlalu fokus pada suatu aktivitas, termasuk ketika menatap layar dalam waktu lama, kita bisa menjadi lebih jarang berkedip. Kondisi seperti ini dapat berkontribusi terhadap munculnya gejala mata kering.
Jadi, bukan cuma laptop yang ternyata betah berada di meja kerja saya. Mata saya juga dipaksa bekerja cukup lama di depannya.
Kenapa Mata Kering Jangan Disepelekan?
Di sinilah saya mulai memahami kenapa #MataSePeLeJanganSepelein dan perlu benar-benar diperhatikan. Masalahnya bukan semata-mata karena mata terasa perih atau tidak nyaman.
Coba bayangkan kalau mata yang kita andalkan untuk membaca, bekerja, menulis, berkendara, atau melakukan berbagai aktivitas sehari-hari terus-menerus terasa tidak nyaman.
Pasti mengganggu, bukan?
Saya sendiri sudah mengalaminya. Pekerjaan yang sebenarnya masih ingin saya lanjutkan akhirnya harus berhenti karena mata sudah tidak sanggup diajak bekerja sama.
Padahal, saya masih punya banyak pekerjaan. Masih ada tulisan yang ingin diselesaikan, konten yang harus dibuat, referensi yang perlu dicari, dan tentu saja tanaman-tanaman di kebun yang masih harus saya amati.
Karena itu, saya mulai berpikir bahwa rasa perih, panas, atau lelah pada mata seharusnya tidak selalu dibalas dengan kalimat, “Ah, paling cuma capek.”
Terlebih jika keluhan tersebut muncul berulang kali.
Bukan berarti setiap mata perih pasti berarti mata kering. Namun, ketika keluhan terus berulang dan mulai mengganggu aktivitas, rasanya memang sudah waktunya untuk berhenti sejenak dan memperhatikannya.
Kalau keluhannya menetap, semakin berat, atau mengganggu penglihatan dan aktivitas sehari-hari, tentu jangan hanya mengandalkan asumsi sendiri. Mencari bantuan tenaga kesehatan atau memeriksakan kondisi mata adalah langkah yang lebih tepat.
Bukankah itu yang selama ini saya lakukan terhadap tanaman?
Kalau tanaman memberikan tanda yang tidak biasa, saya tidak buru-buru bilang, “Ah, paling cuma capek.” Saya justru mencari tahu penyebabnya.
Lalu, Apa yang Bisa Saya Lakukan Agar Bebas dari Mata Kering?
Setelah tahu bahwa mata juga perlu diperhatikan, saya mulai belajar untuk tidak hanya menunggu sampai mata terasa benar-benar tidak nyaman.
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu menjaga kenyamanan mata, terutama bagi orang yang sehari-hari banyak beraktivitas di depan layar.
Memberikan jeda dari layar, mengalihkan pandangan dari monitor, dan membiasakan diri untuk berkedip secara teratur adalah beberapa hal yang bisa dilakukan. Kita juga perlu memperhatikan kondisi lingkungan, misalnya paparan udara yang terlalu kering atau ber-AC, yang dapat membuat mata semakin tidak nyaman.
Namun, bagaimana kalau mata sudah telanjur terasa sepet, perih, atau tidak nyaman karena gejala mata kering?
Salah satu pilihan yang memang ditujukan untuk membantu mengatasi gejala mata kering adalah penggunaan tetes mata dengan efek pelumas seperti air mata. Dan dari sinilah saya mulai mengenal kembali Insto Dry Eyes.
Insto Dry Eyes: Saatnya Saya Mulai Merawat Mata
Insto Dry Eyes merupakan salah satu varian Insto yang digunakan untuk mengatasi gejala mata kering. Produk ini memberikan efek pelumas seperti air mata dan ditujukan untuk membantu mengatasi gejala kekeringan pada mata.
#InstoDryEyes mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose 3,0 mg sebagai bahan aktif, serta Benzalkonium Chloride 0,1 mg. Berdasarkan informasi resmi produknya, kandungan tersebut bekerja memberikan efek pelumas seperti air mata.
Bagi saya, bagian terpentingnya justru bukan sekadar mengetahui ada produk untuk mata kering. Yang lebih penting adalah perubahan kebiasaan saya sendiri.
Dulu, ketika mata mulai memberikan tanda, saya memilih menganggapnya sebagai rasa capek biasa. Sekarang saya mulai belajar berhenti dan memperhatikannya.
Sebab ternyata, merawat mata bukan hanya soal membuat mata terasa nyaman hari ini. Ada banyak hal yang masih ingin saya lakukan dengan mata ini.
Bukan Hanya Mata, Ada Mimpi yang Ingin Saya Rawat
Kalau dipikir-pikir, mata saya ternyata punya peran yang jauh lebih besar dalam kehidupan sehari-hari daripada yang selama ini saya sadari.
Dengan mata inilah saya mengamati tanaman di kebun. Dengan mata ini pula saya membaca, menulis, bekerja di depan laptop, membuat konten, dan belajar banyak hal baru.
Dan di balik semua aktivitas itu, sebenarnya ada sesuatu yang sedang saya bangun. Ada kehidupan yang masih ingin saya jalani. Ada karya yang masih ingin saya buat. Dan ada mimpi yang masih ingin saya wujudkan.
Saya masih ingin melihat tanaman-tanaman yang saya tanam tumbuh dan berbuah. Masih ingin menulis. Masih ingin berkarya. Masih ingin melihat sejauh mana perjalanan yang sedang saya jalani ini akan membawa saya.
Karena itu, merawat mata ternyata bukan hanya soal mengatasi rasa perih atau lelah yang saya rasakan hari ini. Ada banyak hal yang masih ingin saya lihat, jalani, dan wujudkan.
Merawat Apa yang Ingin Terus Tumbuh
Selama ini saya belajar banyak hal dari berkebun. Salah satunya adalah jangan menunggu tanaman benar-benar rusak baru memberikan perhatian. Daun mulai berubah, saya amati.
Pertumbuhan terlihat tidak biasa, saya cari tahu. Ada tanda-tanda serangan hama atau penyakit, saya segera mencari cara untuk mengatasinya. Ternyata, prinsip yang sama juga perlu saya terapkan kepada diri sendiri.
Mata memberikan tanda, seharusnya saya perhatikan. Mata terasa tidak nyaman, seharusnya saya tidak buru-buru menganggapnya sepele.
Karena saya tidak hanya ingin merawat tanaman-tanaman yang sedang tumbuh di kebun kecil saya. Saya juga ingin merawat diri sendiri. Dan tentu saja, saya ingin merawat mimpi-mimpi yang masih ingin tumbuh.
Ya, #BebasMataKering sangat ingin saya upayakan, sebab masih banyak yang ingin saya lihat tumbuh—di kebun, dalam tulisan, dan dalam hidup saya sendiri.



